Menu

Mode Gelap
Merancang Pernikahan dan Sangjit Tak Lagi Rumit, The Westin Surabaya Hadirkan The Art of Celebration Dewan Hakim MTQ XXXI NTB 2026 Berikan Penjelasan Terkait Dinamika Penilaian Saat Lomba Lepas Gunting Rambut, Joe Temukan Jiwa Baru di Balik Mesin Kopi Hanaka Dobrak Kekosongan Hukum Bank Digital, Prof. Sri Astutik Resmi Dikukuhkan Sebagai Guru Besar Unitomo Kasus Jurnalis Beritajatim Mandek 15 Bulan, KAJ Jatim Pertanyakan Keseriusan Polrestabes Surabaya Sabda Theatre Pentaskan “Kuning” pada Perayaan Dies Natalis ke-30

Entertainment

Sabda Theatre Pentaskan “Kuning” pada Perayaan Dies Natalis ke-30

badge-check


					Pementasan teater Kuning karya Mohamad Nizar Rahmanto menjadi puncak perayaan Dies Natalis ke-30 Sabda Theatre UIN Sunan Ampel Surabaya, Minggu (7/6/2026). Pertunjukan yang disutradarai Siti Zahrotul Janah tersebut mengangkat kisah tentang ambisi, pilihan hidup, dan makna kasih sayang keluarga di tengah perjalanan meraih impian. (Foto: Sabda Theatre) Perbesar

Pementasan teater Kuning karya Mohamad Nizar Rahmanto menjadi puncak perayaan Dies Natalis ke-30 Sabda Theatre UIN Sunan Ampel Surabaya, Minggu (7/6/2026). Pertunjukan yang disutradarai Siti Zahrotul Janah tersebut mengangkat kisah tentang ambisi, pilihan hidup, dan makna kasih sayang keluarga di tengah perjalanan meraih impian. (Foto: Sabda Theatre)

SURABAYA, ISTARA – Keterbatasan waktu dan fasilitas tak menghalangi Sabda Theatre merayakan perjalanan tiga dekade berkesenian. Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya itu sukses menggelar Dies Natalis ke-30 bertema “Alur Asa” pada Minggu (7/6/2026).

Perayaan berlangsung di lobi Gedung UIN Sunan Ampel Surabaya 2, lokasi yang hanya diizinkan digunakan selama satu hari, mulai pukul 12.00 hingga 21.00 WIB. Dalam waktu kurang dari sembilan jam, panitia harus menyiapkan panggung, tata artistik, perlengkapan teknis, hingga menyelesaikan seluruh rangkaian acara.

Kerja kolektif para panitia, kru, pemain, dan pendukung acara menjadi kunci keberhasilan kegiatan tersebut. Teras lobi kampus yang bukan ruang pertunjukan pun berubah menjadi panggung teater yang mampu menampung berbagai ekspresi seni sepanjang malam.

Puncak acara diisi pementasan teater berjudul Kuning, karya Mohamad Nizar Rahmanto, S.Hum., yang disutradarai Ketua Sabda Theatre, Siti Zahrotul Janah.

Naskah tersebut berkisah tentang seorang gadis muda bernama Kuning yang meninggalkan rumah demi mengejar kehidupan yang dianggap lebih baik. Dalam perjalanannya, ia bertemu Panji, sosok yang menawarkan jalan pintas untuk mewujudkan impiannya. Namun, pilihan yang diambil membawa Kuning pada situasi yang penuh risiko.

Melalui cerita itu, penonton diajak merenungkan hubungan antara ambisi, godaan, dan konsekuensi dari setiap keputusan hidup. Pertunjukan juga mengangkat makna kasih sayang keluarga sebagai nilai yang sering terlupakan ketika seseorang mengejar cita-cita.

Selain pementasan teater, perayaan turut menghadirkan pembacaan puisi karya penyair Indonesia. Dewi membawakan puisi karya Wiji Thukul, sementara para alumni Sabda Theatre membacakan sejumlah karya WS Rendra.

Salah satu penampil, Menying Lucas, memperkenalkan istilah “Merendra”, sebuah ajakan untuk kembali membaca dan menghidupkan karya-karya WS Rendra di kalangan generasi muda.

Kolaborasi lintas program studi juga mewarnai acara melalui pembacaan puisi Tanpa Judul yang melibatkan mahasiswa Sastra Indonesia, Sastra Inggris, dan Sejarah Peradaban Islam. Penampilan tersebut menjadi simbol pertemuan berbagai disiplin ilmu melalui ruang seni dan sastra.

Acara dibuka dengan Tari Milu Sarju dari Banyuwangi yang sarat makna syukur, perjuangan, dan ketekunan. Nilai-nilai tersebut dianggap selaras dengan perjalanan Sabda Theatre yang telah bertahan selama 30 tahun.

Ketua Sabda Theatre, Siti Zahrotul Janah, menilai perkembangan seni pertunjukan di Surabaya menunjukkan tren yang positif karena semakin banyak ruang ekspresi bagi generasi muda.

“Saat ini semakin banyak ruang bagi anak muda untuk berekspresi, baik melalui pertunjukan, festival, maupun media digital yang membuat karya seni menjangkau lebih banyak orang,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui tantangan terbesar yang dihadapi komunitas teater saat ini adalah menjaga semangat berkesenian sekaligus memastikan regenerasi berjalan dengan baik.

“Tantangan terbesar yang saya rasakan adalah menjaga semangat berkesenian dan regenerasi komunitas. Namun saya melihat peluang besar melalui kolaborasi dan kreativitas generasi muda. Perubahan justru mendorong kami untuk terus beradaptasi dan menjaga teater tetap hidup,” katanya.

Memasuki usia ke-30 tahun, Sabda Theatre menegaskan komitmennya sebagai ruang belajar, berkarya, dan bertumbuh bagi mahasiswa. Organisasi tersebut juga ingin terus menjaga tradisi kaderisasi serta memperkuat peran teater kampus sebagai sarana pembentukan karakter dan pengembangan kreativitas.

Tema “Alur Asa” dipilih sebagai refleksi perjalanan panjang organisasi tersebut. Menjaga alur dimaknai sebagai upaya melanjutkan nilai dan tradisi yang diwariskan generasi sebelumnya, sedangkan merawat asa menjadi simbol keyakinan untuk terus berkarya meski menghadapi berbagai keterbatasan.

Perayaan tiga dekade Sabda Theatre menjadi penanda bahwa semangat berkesenian di lingkungan kampus masih hidup, tumbuh, dan menemukan jalannya melalui kerja bersama serta kecintaan terhadap seni pertunjukan.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Lebih Personal, NEVE Beauty Care Ubah Cara Perawatan Kulit

23 April 2026 - 16:43 WIB

Run For Animals 2026: Lari Sambil Dukung Konservasi Satwa

15 April 2026 - 19:18 WIB

Semangat Berbagi Tanpa Batas, BIP Kembali Hadirkan Kebahagiaan untuk Ribuan Warga Sumenep setelah Beberapa Hari Lalu Bersama 3000 Anak Yatim

10 Maret 2026 - 23:15 WIB

Bukan Cuma Musik, Podcast Jadi Teman Baru Warga RI Saat Subuh Ramadan

25 Februari 2026 - 14:44 WIB

Badai Hukum di Jagat Hiburan: Denada Tambunan Digugat Anak Kandung, Pengacara Alam Gaib Turun Tangan

12 Januari 2026 - 20:31 WIB

Trending di Entertainment