SURABAYA, ISTARA – Deru mesin espresso di sudut Hanaka Social Space itu terdengar seperti ritme baru dalam hidup Joe. Perempuan itu berdiri tegak di balik bar, jemarinya lincah memutar knob, sementara matanya lekat menatap cairan hitam pekat yang mengucur perlahan ke dalam cangkir keramik. Aroma magis langsung menyeruak, memenuhi ruang-ruang kosong di sekitarnya.
Siapa sangka, tangan yang kini begitu puitis meracik kopi, dulunya adalah tangan yang akrab dengan tajamnya gunting dan sisir rambut. Ya, Joe adalah seorang mantan barber.
Langkah berani melompat dari dunia pangkas rambut ke dunia seduh kopi atau barista ini bukan sekadar urusan pindah tempat kerja, melainkan sebuah perjalanan spiritual menemukan sejatinya gairah hidup.
Bagi banyak orang, kopi mungkin hanya penawar kantuk di kala senja atau teman obrolan yang lewat begitu saja. Namun bagi Joe, setiap biji kopi menyimpan seonggok misteri yang menanti untuk dipecahkan. Rasa penasarannya bukan kaleng-kaleng.
Saking inginnya menyelami karakter rasa, Joe bahkan pernah nekat mengunyah biji kopi mentah yang masih hijau. Sebuah cara gila hanya demi merasakan sensasi getir murni sebelum biji-biji itu masuk ke dalam mesin sangrai.
Memulai segalanya dari titik nol jelas bukan perkara gampang. Namun, Joe mengubur dalam-dalam rasa canggungnya. Ia pelajari kembali anatomi rasa, menghafal variabel suhu air, hingga melatih kepekaan hidungnya.
Di matanya, profesi barista bukan sekadar buruh pembuat minuman pesanan. Barista adalah sutradara dari kenyamanan para pelancong rasa yang singgah di kedainya.
Setahun sudah Joe menempa diri di Hanaka Social Space. Kedai ini bukan lagi sekadar tempat mencari nafkah, melainkan panggung teater tempat ratusan cerita manusia berseliweran setiap hari. Dari balik mesin espresso, Joe merekam senyum, tawa, bahkan keluh kesah pelanggannya yang melebur bersama kepulan asap kopi.
“Kami selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi pelanggan agar mereka mendapatkan pengalaman minum kopi yang berkesan,” tutur Joe.
Lelah? Tentu saja ada. Namun, ketika hati sudah menuntun jemari, rasa penat itu menguap begitu saja, kalah oleh kepuasan melihat pelanggannya tersenyum pada sesapan pertama.
Kisah Joe menjadi tamparan lembut bagi kita semua: bahwa jalan hidup tak pernah sedatar penggaris. Terkadang, kita harus berani membuang “gunting” lama kita demi menggenggam “portafilter” baru yang membawa kita pada arti hidup yang sesungguhnya.
Penulis: Olivielyn/GMNI Surabaya Raya











