SURABAYA, ISTARA – Petani tebu di Bondowoso didorong menjaga kualitas tebu dengan menerapkan prinsip Manis, Bersih, dan Segar (MBS). Upaya tersebut mendukung kualitas bahan baku sekaligus proses pengolahan tebu di Pabrik Gula (PG) Pradjekan.
Kualitas tebu juga berkaitan dengan rendemen dan hasil yang petani peroleh. Karena itu, petani perlu menjaga kondisi tebu sejak dari kebun hingga mengirimkannya ke pabrik.
Tiga Syarat Tebu Berkualitas
Prinsip MBS mencakup tiga hal, yakni manis, bersih, dan segar. Petani perlu memanen tebu pada tingkat kemasakan yang optimal.
Selain itu, petani perlu memastikan tebu minim kotoran. Setelah menebang, petani juga perlu segera mengirim tebu ke PG Pradjekan.
Langkah tersebut membantu menjaga kualitas bahan baku yang diterima pabrik. Selanjutnya, kualitas bahan baku yang baik dapat mendukung proses pengolahan secara optimal.
Kualitas Tebu Berkaitan dengan Rendemen
Bagi petani, kualitas tebu tidak hanya menentukan hasil produksi. Kualitas tersebut juga berpengaruh terhadap nilai yang mereka peroleh dari hasil panen.
Semakin baik kualitas tebu yang petani kirim, semakin besar peluang memperoleh hasil pengolahan dan rendemen yang optimal. Kondisi ini dapat mendukung hasil usaha dan pendapatan petani dari budidaya tebu.
PG Pradjekan juga mencatat hasil dan rendemen yang baik secara konsisten. Menurut PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), pasokan tebu berkualitas dari petani turut mendukung kinerja tersebut.
Karena itu, sinergi antara petani dan pabrik menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas bahan baku. Hubungan tersebut juga mendukung proses pengolahan tebu menjadi gula.
APTRI Ajak Petani Pertahankan Mutu Tebu
Ketua Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPC APTRI) PG Pradjekan Bondowoso, Rolis Wikarsono, mengajak petani terus meningkatkan kualitas tebu melalui prinsip MBS.
“Petani harus terus menjaga kualitas tebunya. Tebu yang Manis, Bersih, dan Segar akan memberikan hasil yang lebih baik ketika masuk ke pabrik,” ujar Rolis Wikarsono.
Rolis juga mengajak petani mengirimkan tebu dengan mutu MBS ke PG milik SGN. Menurutnya, langkah tersebut dapat membantu petani memperoleh hasil yang lebih maksimal.
“Dengan hasil yang baik, tentu harapannya pendapatan petani juga dapat meningkat,” katanya.
Menurut Rolis, petani memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan industri gula. Oleh sebab itu, peningkatan kualitas tebu perlu menjadi perhatian bersama.
Ia menilai kualitas bahan baku yang baik dapat mendukung kinerja pabrik. Pada saat yang sama, kondisi tersebut membuka peluang bagi petani memperoleh hasil yang lebih optimal.
SGN Perkuat Sinergi dengan Petani
PT SGN terus memperkuat sinergi dengan petani tebu. Perusahaan menjalankan upaya tersebut melalui pengelolaan bahan baku dan proses pengolahan yang optimal.
SGN berharap kolaborasi dengan petani dapat membangun ekosistem pergulaan yang semakin produktif. Selain itu, kolaborasi tersebut diarahkan untuk memberikan nilai tambah dan mendukung kesejahteraan petani tebu.
PG Pradjekan di Bondowoso menjadi salah satu pabrik gula SGN yang bermitra dengan petani dalam mengolah tebu menjadi gula.
Melalui penerapan prinsip MBS, petani dapat menjaga kualitas tebu sekaligus mendukung peluang memperoleh rendemen yang lebih baik. Upaya tersebut juga berkaitan dengan peningkatan nilai hasil panen dan pendapatan petani.

















Komentar ditutup.