ISTARA – Bagi para peternak lele, pakan adalah “hantu” yang mencekik kantong. Bagaimana tidak, 70 persen modal sering habis hanya untuk membeli pelet pabrikan. Namun, di tangan tim pengabdian masyarakat Universitas Dr. Soetomo (Unitomo), gulma eceng gondok yang kerap menyumbat saluran air diubah menjadi mesin uang bagi Bolodewe Fish Farm di Sidoarjo.
Selama enam bulan terakhir, Maria Agustini dan timnya berjibaku meracik formula pakan alternatif. Bahannya sederhana namun bergizi: eceng gondok, dedak, ampas tahu, dan tepung ikan yang difermentasi dengan EM4 serta molases.
“Hasilnya, biaya produksi turun drastis hingga 31 persen,” kata Maria dalam paparannya di hadapan Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) Unitomo, Kamis (5/3/2026).

Kegiatan Persiapan Aplikasi Pakan dan Pupuk Berbasis Eceng Gondok. (Dok.Pribadi)
Hitung-hitungannya menggiurkan. Jika pakan komersial dijual Rp20.000 per kilogram, pakan “racikan” Sidoarjo ini hanya butuh modal Rp8.000 per kilogram. Menariknya, penurunan harga tidak membuat kualitas anjlok. Sebaliknya, lele-lele di Bolodewe Fish Farm justru tumbuh lebih bongsor.
Dalam uji coba, ikan dengan pakan eceng gondok mampu mencapai bobot 125 gram, jauh lebih berat dibanding lele berpakan biasa yang hanya mentok di 77 gram. “Kadar air pakan juga kami jaga di angka 4 persen agar awet disimpan,” tambah Maria.
Meski sempat terkendala cuaca saat penjemuran pakan, Bolodewe Fish Farm kini sudah mampu memproduksi 100 kilogram pakan per minggu. Tak sekadar urusan perut ikan, tim Unitomo juga merombak manajemen usaha mitra, mulai dari SOP produksi hingga digitalisasi pemasaran. Kini, lele-lele dari Tanggulangin itu siap naik kelas dengan ongkos yang jauh lebih miring.











