SURABAYA, ISTARA – Film Istimewa mengakhiri rangkaian cinema visit di Pulau Jawa di XXI Pakuwon Mall Surabaya, Sabtu (15/8/2026). Yanni Melwani, Prija Iska (Priijay), dan Rein hadir langsung untuk menyapa penonton.
Sebelum datang ke Surabaya, para pemain Istimewa bertemu dengan penonton di Bandung, Semarang, Solo, dan Yogyakarta. Rangkaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan film menuju penayangan di bioskop Indonesia pada September mendatang.
Dalam film Istimewa, Rein memerankan Ken, salah satu dari lima anak dengan disabilitas yang tinggal di Rumah Istimewa. Ken hidup bersama Aldo (Aldi), Bimo (Bambang), Nita (Niatus), dan Mul (Mustofa). Mathias Muchus memerankan Pak Mahendra, sedangkan Yanni Melwani memerankan Mbak Kinan yang membantu merawat mereka.
Bertemu Penonton di Lima Kota
Cinema visit membawa para pemain bertemu langsung dengan masyarakat di sejumlah kota. Mereka melihat respons penonton terhadap kisah lima anak di Rumah Istimewa yang mengangkat keluarga, persahabatan, penerimaan, dan kasih sayang.
Yanni Melwani melihat setiap kota memberikan respons yang berbeda. Namun, ia merasa senang ketika penonton ikut merasakan cerita Istimewa.
“Setiap kota punya respons yang berbeda, tapi yang paling membahagiakan adalah ketika penonton bisa ikut merasakan cerita dan kemudian melihat teman-teman Istimewa dengan cara yang lebih dekat. Semoga rasa yang dibawa dari bioskop bisa terus mereka bawa setelah film selesai,” ujar Yanni.
Prija Iska menilai perjalanan Istimewa tidak berhenti pada kegiatan bertemu penonton.
“Buat saya, perjalanan film ini bukan hanya tentang datang ke satu kota, bertemu penonton, lalu selesai. Yang lebih penting adalah apa yang penonton bawa pulang setelah melihat filmnya,” kata Priijay.
Ia berharap film tersebut mendorong lebih banyak orang untuk melihat seseorang dari sisi kemanusiaannya, bukan sekadar keterbatasannya.
“Semoga semakin banyak orang yang terbuka untuk melihat seseorang bukan dari keterbatasannya, tetapi dari dirinya sebagai manusia,” lanjutnya.
Rein Ajak Penonton Tidak Cepat Memberi Label
Rein juga ingin penonton melihat orang lain secara lebih terbuka. Menurutnya, setiap orang memiliki cerita dan keistimewaannya sendiri.
“Senang bisa melihat sendiri bagaimana penonton merespons film ini. Semoga Istimewa bisa membuat kita lebih terbuka dan tidak cepat memberikan label kepada orang lain, karena setiap orang punya cerita dan punya keistimewaannya sendiri,” ujar Rein.
Pesan tersebut menjadi salah satu fokus Istimewa sepanjang perjalanan cinema visit. Film ini mengangkat kehidupan lima anak di Rumah Istimewa sekaligus mengajak penonton melihat seseorang secara lebih utuh.
Ayah Mans: Jangan Jadikan Kekurangan sebagai Definisi Seseorang
Produser Istimewa, Abdullah Mansuri atau Ayah Mans, melihat respons penonton di sejumlah kota sebagai tanda bahwa masyarakat dari berbagai latar belakang dapat menerima pesan film tersebut.
Menurut Ayah Mans, setiap manusia memiliki perbedaan, kekurangan, dan cerita masing-masing.
“Kita semua punya perbedaan, punya kekurangan, dan punya cerita masing-masing. Tapi yang ingin saya ingatkan adalah jangan sampai kekurangan menjadi cara kita mendefinisikan seseorang,” ujar Ayah Mans.
Ia mengatakan Istimewa tidak hanya membicarakan teman-teman disabilitas. Film ini juga mengajak masyarakat belajar menerima orang lain sekaligus menerima dirinya sendiri.
“Kalau kita sudah bisa melihat teman-teman Istimewa dengan lebih terbuka, saya berharap kita juga bisa melihat diri sendiri dengan cara yang sama. Tidak ada manusia yang sempurna. Kita semua punya sesuatu yang mungkin kita anggap sebagai kekurangan, tapi justru itu yang menjadi bagian dari cerita dan membuat kita berbeda,” lanjut Ayah Mans.
Film Istimewa Tayang 17 September
Surabaya menjadi kota terakhir yang dikunjungi Istimewa dalam rangkaian cinema visit di Pulau Jawa. Setelah Surabaya, film ini akan melanjutkan perjalanannya ke berbagai wilayah Indonesia.
Istimewa akan menyapa penonton di seluruh bioskop Indonesia mulai 17 September 2026.
Komentar ditutup.