Menu

Mode Gelap
Aston Inn Mataram | Archipelago Mengangkat Fenomena Kuliner Korea Lewat “60 Seconds To Seoul” ‎Polres Loteng Olah TKP Penemuan Mayat di Kelurahan Praya Guido Fenneman Mencoba Sensasi Balapan di Sirkuit Mandalika Anak Ditabrak Orang, Jurnalis Selaku Orang Tua Dipanggil Oknum Polres Sumenep Lewat Telepon Tanpa Dasar Pengalaman Panjang Abd. Rahman Riadi Membuat Namanya Masuk Radar Utama Sekda Sumenep Pertarungan Sekda Dimulai, Kadis DKPP Sumenep Masuk Zona Bahaya Kandidat Kuat

Opini & Analisis

Warga Desa Karangsuko Malang Kembangkan Ekonomi Lewat Wisata Alam

badge-check


					Aktivitas Objek Wisata Air Sumber Maron, Desa Karangsuko, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang. (Sarif) Perbesar

Aktivitas Objek Wisata Air Sumber Maron, Desa Karangsuko, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang. (Sarif)

Penulis: Sarif

MALANG, ISTARA – Keberadaan wisata alam Sumber Maron di Desa Karangsuko, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, Jawa Timur, membawa perubahan signifikan bagi kehidupan masyarakat setempat. Di balik aliran sungai yang jernih dan suasana alam yang sejuk, aktivitas wisata di kawasan ini berkembang menjadi sumber penghasilan baru bagi warga desa. Pariwisata tidak lagi dipandang sekadar sebagai tempat rekreasi, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi lokal yang terus bertumbuh.

Sumber Maron dikenal sebagai destinasi wisata alam berbasis sungai yang menawarkan berbagai aktivitas air, seperti bermain di aliran sungai dan arung jeram (river tubing). Setiap akhir pekan dan musim liburan, tempat ini ramai dikunjungi wisatawan dari dalam maupun luar daerah. Tingginya kunjungan tersebut secara langsung menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat Desa Karangsuko yang tinggal di sekitar lokasi wisata.

Bagi warga setempat, keberadaan wisata Sumber Maron membuka beragam jenis pekerjaan, sebagian masyarakat terlibat sebagai pengelola parkir yang melayani kendaraan wisatawan. Parkir menjadi sumber pendapatan harian yang cukup menjanjikan, terutama saat jumlah pengunjung meningkat. Lahan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan kini memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

Di sisi lain, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) turut tumbuh seiring berkembangnya wisata. Banyak warga membuka warung makan dan lapak sederhana yang menyediakan aneka makanan dan minuman bagi pengunjung. Mulai dari bakso, camilan ringan, hingga minuman segar mudah dijumpai di sekitar wisata. Tidak sedikit pula pedagang yang menjual oleh-oleh, pakaian, serta perlengkapan wisata untuk memenuhi kebutuhan pengunjung.

Aktivitas perdagangan tersebut menjadi bukti bahwa pariwisata mampu menciptakan pasar langsung bagi produk dan jasa lokal. Wisatawan yang datang tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga berkontribusi terhadap perputaran ekonomi di tingkat desa. Transaksi yang terjadi setiap hari menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga di Desa Karangsuko.

Selain parkir dan perdagangan, jasa ojek motor juga berperan dalam mendukung aktivitas wisata. Ojek menjadi alternatif transportasi bagi wisatawan yang ingin menuju lokasi wisata atau berkeliling desa. Bagi beberapa warga, jasa ojek wisata memberikan tambahan penghasilan yang cukup berarti, terutama bagi mereka yang sebelumnya hanya mengandalkan hasil dari sektor pertanian.

Perkembangan wisata Sumber Maron turut memengaruhi pola mata pencaharian masyarakat. Jika sebelumnya mayoritas warga bekerja sebagai buruh tani, kini banyak yang mulai beralih menjadi pelaku usaha dan penyedia jasa wisata. Pergeseran ini mencerminkan kemampuan masyarakat desa dalam beradaptasi dengan peluang ekonomi baru yang muncul dari sektor pariwisata.

Salah satu pendorong utama bagi pertumbuhan ekonomi di kawasan ini adalah pengembangan wahana river tubing. Wahana tersebut membutuhkan berbagai layanan pendukung; seperti penyewaan ban pelampung, pengelolaan keselamatan, hingga pendampingan wisatawan. Kebutuhan ini membuka lapangan kerja baru dan memperluas keterlibatan warga dalam aktivitas wisata. Sejumlah warga juga memanfaatkan momen tersebut dengan menyediakan jasa dokumentasi sederhana bagi pengunjung.

Pengelolaan wisata Sumber Maron berada dalam naungan Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) Desa Karangsuko. Melalui BUM Desa, pengelolaan kawasan wisata dilakukan secara lebih terkoordinasi dan terarah. Pendapatan dari sektor pariwisata tidak hanya dinikmati secara individu, tetapi juga dikelola untuk kepentingan desa. Skema ini memungkinkan hasil ekonomi pariwisata dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan dan kegiatan sosial masyarakat.

Model pengelolaan berbasis desa tersebut memberikan ruang bagi pemerataan manfaat ekonomi. Pendapatan yang dihimpun melalui BUM Desa dapat dialokasikan untuk perbaikan fasilitas umum, penguatan UMKM, serta program yang mendukung kesejahteraan warga. Dengan demikian, pariwisata tidak hanya menguntungkan segelintir pihak, tetapi memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat desa.

Keunikan lain yang dimiliki Sumber Maron adalah pemanfaatan energi terbarukan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Fasilitas ini memanfaatkan aliran air alami untuk menghasilkan energi listrik. Selain berfungsi sebagai sumber energi, PLTMH juga menjadi contoh pemanfaatan sumber daya alam secara bijak dan berkelanjutan. Keberadaannya menambah nilai edukasi kawasan wisata, khususnya terkait kesadaran lingkungan.

Dalam praktiknya, aktivitas ekonomi di Sumber Maron dijalankan dengan semangat kebersamaan yang masih kuat. Warga desa saling bekerja sama dalam mengelola wisata, baik dalam menjaga kebersihan maupun mengatur aktivitas pengunjung. Nilai gotong royong menjadi landasan utama dalam menjalankan kegiatan ekonomi, sehingga tercipta keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan sosial.

Meski memberikan banyak manfaat, perkembangan wisata Sumber Maron juga menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah meningkatnya volume sampah akibat tingginya kunjungan wisatawan. Pengelolaan sampah menjadi persoalan penting yang perlu terus dibenahi agar tidak mengganggu kelestarian lingkungan. Selain itu, keterbatasan fasilitas pendukung seperti kamar mandi, lahan parkir, dan akses transportasi masih menjadi perhatian dalam pengembangan kawasan wisata.

Tantangan lainnya adalah menjaga keseimbangan antara pemanfaatan ekonomi dan kelestarian alam. Sebagai wisata berbasis alam, keberlanjutan Sumber Maron sangat bergantung pada kondisi lingkungan. Oleh karena itu, pengelolaan yang memperhatikan aspek lingkungan dan sosial menjadi kunci agar pariwisata dapat terus memberikan manfaat jangka panjang.

Secara keseluruhan, aktivitas wisata Sumber Maron telah menjadi salah satu penggerak utama perputaran ekonomi warga Desa Karangsuko. Pariwisata membuka ruang usaha, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong tumbuhnya UMKM lokal. Dengan pengelolaan yang terus diperbaiki dan partisipasi aktif masyarakat, wisata Sumber Maron berpotensi menjadi contoh pengembangan pariwisata desa yang mampu mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Terlambat tapi Tulus: Gen Z Minta Maaf kepada Aurellie Moeremans Usai Membaca “Broken Strings”

22 Januari 2026 - 21:34 WIB

Pajak: Antara Lingkaran Setan dan Macan Kertas

16 Januari 2026 - 14:11 WIB

Sudah 20 Tewas, 1.000 Demonstran Ditangkap di Iran, Trump Tebar Ancaman

6 Januari 2026 - 16:26 WIB

Cuan Dua Digit Modal Canva dan CapCut: Cara Gen Z Mandiri Ekonomi

5 Januari 2026 - 12:17 WIB

Rusia Ubah Taktik Perang, Ukraina Kelelahan

5 Januari 2026 - 12:03 WIB

Trending di Opini & Analisis