Menu

Mode Gelap
Sumenep Bersolawat 2026: Syukur, Evaluasi, dan Perkuat Ukhuwah di Tengah Pembangunan Daerah Cahaya Pro Bongkar Fakta Cukai Rokok 1999 vs 2026, Jomplang 36% vs 70% Industri Rokok Minta Menkeu Purbaya Terapkan Tarif Cukai Khusus Demi Selamatkan Usaha Lokal Tak Hanya Penuhi Gizi Anak, SPPG Polres Loteng Diharapkan Gerakkan Ekonomi Petani dan UMKM Ramadhan Gerakkan Ekonomi UMKM Surabaya, Omzet Pedagang Naik Dua Kali Lipat Rindu Nasi Mandi? Nuansa Timur Tengah Ini Hadir di Surabaya

Opini & Analisis

Mengapa Surga Harus Berada di Bawah Telapak Kaki Ibu?

badge-check


					Mengapa Surga Harus Berada di Bawah Telapak Kaki Ibu? Perbesar

Oleh: Slow Ahmadi Neja
UngkapanSurga berada di bawah telapak kaki ibubukan sekadar untaian kata puitis, melainkan sebuah manifestasi teologis dan sosiologis tentang posisi sentral perempuan dalam struktur peradaban. Di Indonesia, memaknai esensi Hari Ibu menjadi momentum untuk menyelaraskan dogma spiritual tentang kemuliaan ibu dalam tradisi santri dengan analisis intelektual modern yang memandang peran perempuan sebagai pilar peradaban.

Adab dan Khidmat dalam Tradisi NU
Dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU), penghormatan kepada ibu adalah fondasi dari seluruh bangunan akhlak. Hal ini senada dengan pemikiran Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Adabul ‘Alim wal Muta’allim. Beliau menekankan bahwa keberkahan ilmu hanya bisa diraih melalui adab, dan puncak dari adab sosial adalah bakti kepada orang tua, terutama ibu.

Dalil Utama: NU memegang teguh hadis riwayat Mu’awiyah bin Jahimah r.a. saat ia meminta izin berjihad, Rasulullah SAW bersabda: “Tetaplah bersamanya (ibumu), karena sesungguhnya surga ada di bawah telapak kakinya.”

Filosofi Tawadhu: Bagi kaum Nahdliyin, “telapak kaki” melambangkan kerendahan hati yang paling dalam. Mencium tangan atau membasuh kaki ibu bukan sekadar tradisi, melainkan simbolisasi bahwa ego seorang anak harus luruh di hadapan doa ibu. Seperti yang sering ditekankan dalam kultur pesantren, Ridhallahi fi ridhal walidain (Ridha Allah bergantung pada ridha orang tua).

Ibu sebagai Pilar Peradaban
Secara akademis, ungkapan ini dapat dibedah melalui kacamata Psikologi Perkembangan dan Sosiologi. saya sendiri menafsirkan bahwatelapak kaki” sebagai simbol fondasi pendidikan pertama (Al-Ummu Madrasatul Ula).

Perspektif Psikoanalisis: Dalam teori Object Relations, ibu adalah objek pertama yang dikenal manusia. Kualitassurgaatau neraka mental seseorang di masa dewasa sangat ditentukan oleh rasa aman (secure attachment) yang diberikan ibu di masa kecil. Ibu adalah arsitek pertama dari struktur psikis manusia.

Analisis Sosiologis: Dari sisi sosiologi pembangunan, ibu adalah pemegang “Modal Sosial” terbesar. Literasi, kesehatan, dan karakter sebuah bangsa sangat bergantung pada peran domestik ibu yang seringkali tidak ternilai secara materi namun menjadi penentu indeks pembangunan manusia.

Etika Kepedulian (Ethics of Care): Akademisi feminis dan sosiolog melihat peran ibu sebagai jantung dari etika kepedulian yang menjaga stabilitas masyarakat agar tidak hancur oleh individualisme ekstrem.

Antara Teks dan Realitas
Menghormati ibu bukan hanya kewajiban agama untuk meraih pahala transendental, tetapi juga keharusan logis untuk membangun tatanan sosial yang sehat.

Surga di bawah telapak kaki ibu adalah sebuah metafora tentang penghargaan terhadap proses. Tidak ada kesuksesan yang instan, ia dibangun dari langkah-langkah kecil, kerja keras, dan doa yang dipanjatkan dari seorang ibu yang kakinya berpijak di bumi untuk mengantar anaknya menggapai langit.

Hari Ibu adalah pengingat bahwa jalan menuju kemuliaan, selalu bermula dari rumah. Memuliakan ibu berarti memuliakan kemanusiaan itu sendiri.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Lansia Di Era Dompet Digital: Kemudahan, Kesulitan Atau Jerat Penipuan?

25 Februari 2026 - 09:43 WIB

Puasa Komunikasi

19 Februari 2026 - 11:25 WIB

Romantisasi Kemiskinan di Balik Slogan ‘Semua Bisa Jadi Entrepreneur’

11 Februari 2026 - 13:12 WIB

Terlambat tapi Tulus: Gen Z Minta Maaf kepada Aurellie Moeremans Usai Membaca “Broken Strings”

22 Januari 2026 - 21:34 WIB

Pajak: Antara Lingkaran Setan dan Macan Kertas

16 Januari 2026 - 14:11 WIB

Trending di Opini & Analisis