Oleh: Gia Kemala
Bangku itu tetap dingin, Nak.
Kau tak datang membawa pena dan buku.
Sekolah meminta kehadiran,
tapi lupa menyiapkan kemungkinan.
Aku mengajar kata, kalimat, dan harapan.
Tapi aku lupa, huruf tak pernah lahir tanpa alat.
Anak itu terlalu kecil.
Sedang aku penyair yang banyak cakap,
berbicara tentang kemanusiaan
sambil membiarkan anak itu menghitung hari
dengan kekosongan.
Nietzsche benar, “Orang-orang dewasa hanyalah unta.”
Jika memang aku seekor unta,
aku mengaku,
aku gagal membaca tangis,
yang berakhir menjadi sesuatu yang tragis.
Sleman, Februari 2026











