Menu

Mode Gelap
Sumenep Bersolawat 2026: Syukur, Evaluasi, dan Perkuat Ukhuwah di Tengah Pembangunan Daerah Cahaya Pro Bongkar Fakta Cukai Rokok 1999 vs 2026, Jomplang 36% vs 70% Industri Rokok Minta Menkeu Purbaya Terapkan Tarif Cukai Khusus Demi Selamatkan Usaha Lokal Tak Hanya Penuhi Gizi Anak, SPPG Polres Loteng Diharapkan Gerakkan Ekonomi Petani dan UMKM Ramadhan Gerakkan Ekonomi UMKM Surabaya, Omzet Pedagang Naik Dua Kali Lipat Rindu Nasi Mandi? Nuansa Timur Tengah Ini Hadir di Surabaya

Kolom Santri

Diktator Digital! Virtual Gift DA7 Membunuh Standar Seni

badge-check


					Diktator Digital! Virtual Gift DA7 Membunuh Standar Seni Perbesar

Oleh: Moh. Royhan Iqbal*

Dangdut Academy 7 (DA7) telah bertransformasi dari sekadar ajang pencarian bakat menjadi panggung eksperimen “demokrasi digital”. Jika dahulu kualitas vokal adalah hukum tertinggi, kini sistem virtual gift muncul sebagai parameter penentu yang sering kali melampaui penilaian juri profesional.

Fenomena ini terlihat jelas pada babak Top 3 dan Grand Final, di mana meskipun Tasya, Valen, dan April meraih standing ovation dari juri, takdir kemenangan mereka justru berada di tangan “jempol” pemirsa. Dinamika kejar-mengejar dukungan antara Valen dan Tasya membuktikan bahwa dalam kompetisi modern, kualitas teknis hanyalah setengah dari perjuangan; setengah sisanya adalah kemampuan memobilisasi dukungan finansial publik.

Ekonomi Digital: Relativisasi Otoritas Profesional
Secara ekonomi, sistem virtual gift adalah manifestasi dari attention economy (ekonomi atensi). Di sini, perhatian publik dikomodifikasi menjadi nilai rupiah yang fantastis. Dampaknya cukup disruptif: otoritas juri yang memiliki kepakaran teknis mengalami “penurunan takhta”.

Kompetensi vokal yang objektif kini harus bersaing dengan volume dukungan finansial. Hal ini menciptakan pergeseran nilai apresiasi seni, dari yang bersifat kualitatif-estetik menjadi kuantitatif-moneter.

Perspektif Sosial: Modal Simbolik dan Solidaritas Komunal
Meminjam pemikiran Pierre Bourdieu, fenomena ini menunjukkan bagaimana modal sosial dan simbolik bekerja. Dukungan masif dari Pamekasan untuk Valen atau Tangerang Selatan untuk Tasya bukan sekadar soal musik, melainkan bentuk solidaritas identitas kolektif.

Virtual gift menjadi alat bagi masyarakat daerah untuk “bertarung” memperebutkan eksistensi di panggung nasional. Namun, risikonya adalah kompetisi bakat berubah menjadi kompetisi kekuatan ekonomi antarwilayah.

Antara Kualitas atau Kuantitas? – (Foto: Ilustrasi AI)

Moralitas Publik dan Agama: Esensi Niat dan Kesempurnaan Amal
Dalam perspektif Islam, setiap perbuatan harus berpijak pada nilai etqan (kesempurnaan kerja) dan niat yang tulus. Hadis riwayat Thabrani menekankan bahwa Allah mencintai hambanya yang melakukan pekerjaan secara profesional dan tuntas. Dalam konteks DA7, standar kualitas vokal yang tinggi adalah bentuk etqan (usaha).

Jika dukungan populer sepenuhnya menenggelamkan aspek kualitas, maka kita sedang mencederai nilai keadilan. Dukungan (hadiah) seharusnya menjadi apresiasi atas prestasi, bukan alat untuk memanipulasi hasil akhir yang mengabaikan kejujuran teknis.

Politik dan Moralitas Bernegara: Tantangan Meritokrasi
Secara makro, fenomena ini mencerminkan tantangan dalam moralitas bernegara. Jika legitimasi pemenang hanya didasarkan pada jumlah “saweran” digital, maka kita sedang mempraktikkan model kepemimpinan yang rentan: siapa yang paling bermodal, dialah yang berkuasa.

Ini menjadi pengingat bagi kehidupan bernegara bahwa demokrasi yang sehat memerlukan keseimbangan antara partisipasi rakyat dan standar kompetensi objektif (meritokrasi), agar kepemimpinan tidak jatuh pada sekadar popularitas berbayar.

Budaya Populer: Antara Identitas dan Konsumerisme Instan
Budaya populer memang ruang perayaan identitas nasional. Namun, tanpa kontrol nilai, apresiasi seni di Indonesia berisiko terjebak dalam arus konsumsi instan. Kita perlu menjaga agar panggung seperti DA7 tetap menjadi tempat di mana kualitas dihargai sebagai nilai tertinggi, bukan sekadar angka-angka di layar yang menguap setelah kompetisi usai.

Pergeseran paradigma penilaian dalam Dangdut Academy 7 melalui virtual gift menegaskan bahwa industri hiburan kita sedang berada di persimpangan jalan antara kemajuan teknologi dan penjagaan nilai. Meskipun partisipasi publik memberikan energi baru bagi industri, ketidakseimbangan antara kualitas teknis dan dukungan finansial harus tetap dikritisi. Pada akhirnya, sebuah kompetisi seni yang adil adalah kompetisi yang mampu menyatukan kemeriahan dukungan massa dengan penghormatan tinggi terhadap bakat dan dedikasi yang tulus.


*Mahasiswa Universitas Annuqayah

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Kritik terhadap Kemandulan Intelektual

16 Desember 2025 - 16:58 WIB

Trending di Kolom Santri