Menu

Mode Gelap
Sumenep Bersolawat 2026: Syukur, Evaluasi, dan Perkuat Ukhuwah di Tengah Pembangunan Daerah Cahaya Pro Bongkar Fakta Cukai Rokok 1999 vs 2026, Jomplang 36% vs 70% Industri Rokok Minta Menkeu Purbaya Terapkan Tarif Cukai Khusus Demi Selamatkan Usaha Lokal Tak Hanya Penuhi Gizi Anak, SPPG Polres Loteng Diharapkan Gerakkan Ekonomi Petani dan UMKM Ramadhan Gerakkan Ekonomi UMKM Surabaya, Omzet Pedagang Naik Dua Kali Lipat Rindu Nasi Mandi? Nuansa Timur Tengah Ini Hadir di Surabaya

Kolom Santri

Kritik terhadap Kemandulan Intelektual

badge-check


					Moh. Saif Abdillah, Santri Mathaliul Anwar, Pangarangan Sumenep. Foto: David Perbesar

Moh. Saif Abdillah, Santri Mathaliul Anwar, Pangarangan Sumenep. Foto: David

Oleh: Moh. Saif Abdillah*

Secara anatomis, manusia pada dasarnya mirip dengan binatang. Meski struktur tubuh manusia lebih indah dari binatang, namun organ tubuhnya, baik dalam maupun luar, memiliki fungsi yang sama dengan binatang. Jika manusia mengendus melalui hidung, begitupun dengan hewan. Jika manusia bisa merasa dengan lidah, itu pun juga terjadi pada hewan. Dan, tentu masih banyak lagi kemiripan antara hewan dengan manusia. Tetapi, yang penting untuk diketahui adalah tulisan ini bukan ingin membahas tentang teori evolusi Darwin. Bukan ingin berbicara soal manusia berasal dari apa dan bagaimana. Satu hal penting yang ingin disampaikan adalah bahwa manusia merupakan hewan yang dapat berpikir, al-insanu hayawan an-natiq.

Perbedaan yang memberi keistimewaan manusia dari hewan adalah fungsi otak yang digunakan untuk berpikir secara sistematis dan argumentatif. Jika manusia dapat merencanakan agenda-agenda yang akan dilakukan esok, maka hewan sama sekali tidak berpikir apa, kenapa, dan bagaimana ia harus hidup di hari esok. Jika manusia bisa berpikir bahwa membunuh itu perbuatan yang tidak benar, maka hewan justru saling santap satu sama lain. Maka, apabila kita mengatakan manusia adalah hewan yang berpikir, itu sama halnya dengan mengatakan bahwa hewan adalah manusia yang tidak berpikir.

Namun sayang, kegiatan berpikir dewasa ini tidak berjalan begitu masif, terutama di pondok pesantren tercinta kita ini. Daya pikir kritis santri seolah hilang dari permukaan kegiatan ilmiah. Padahal, kita tahu bahwa kegiatan bernalar erat kaitannya dengan kegiatan intelektual. Dengan ungkapan lain, kita tidak akan menemukan nikmatnya keilmuan apabila mengabaikan dan sama sekali tidak menggunakan akal sehat kita. Maka, janganlah mengharapkan sebuah kemajuan, apabila latar belakang keilmuan kita hanya diperoleh dari telinga ke telinga, tanpa dicerna dengan pikiran kritis.

Usut punya usut, kegagapan dalam bernalar yang kita alami disebabkan oleh minimnya literasi. Ketidakpedulian kita kepada tulisan dan bacaan membuat otak kita terbunuh secara perlahan. Padahal, membaca membuat kita dapat berdialog dengan penulis. Menulis pun berarti telah mengajak para pembaca untuk berdialog dengannya.

Foto: Ilustrasi/AI

Kegiatan berpikir berbeda dengan kegiatan menghafal. Berpikir membutuhkan kejeniusan dan kejelian otak. Sementara menghafal hanya butuh waktu dan kebiasaan. Misalnya, untuk memahami suatu murad tentang lafal kitab yang kita baca, kita memerlukan kejeniusan otak untuk berpikir, bukan malah menghafalkan lafal tersebut. Sementara agar lafal tersebut melekat dalam ingatan, kita hanya butuh kebiasaan untuk mengulangnya lagi dan lagi. Tetapi, untuk apa sekadar ingat Jurumiyah, sementara kita tidak paham? Padahal yang dibutuhkan sebenarnya hanyalah pemahaman, bukan sekadar hafalan. Singkatnya begini, tujuan utama kita adalah pemahaman. Adapun hafalan, hanyalah sebatas perantara untuk sampai pada pemahaman-pemahaman. Itu artinya, orang yang paham pasti bisa hafal, sedangkan orang yang hafal belum tentu bisa paham. Sebab, lagi-lagi pemahaman butuh pikiran, sedangkan hafalan hanya butuh pengulangan.

Memang benar bahwa manusia pasti tidak lepas dari berpikir. Misalnya, berpikir tentang masa depan, berpikir tentang persoalan yang tengah dihadapi, atau bahkan berpikir tentang bagaimana caranya supaya kita bisa memiliki nilai tinggi dalam monitoring. Tetapi, pikiran-pikiran yang sengaja terlintas dalam benak kita sering kali tidak berjalan dengan semestinya. Dengan ungkapan yang singkat, pikiran manusia tidak dapat berjalan secara proporsional (sesuai porsinya) apabila tidak berbekal landasan yang kuat. Nah, landasan inilah yang akan kita peroleh dengan cara membaca buku.

Dalam konteks ilmu pengetahuan, kegiatan berpikir tidaklah sesederhana memikirkan alasan mengapa Zaid makan jam delapan malam. Untuk mengetahui alasan tersebut, yang hanya kita perlukan sebatas pikiran yang sehat dan bukti yang kuat. Misalnya begini: (a) aturan jam makan santri di pondok adalah jam delapan malam, (b) Zaid adalah seorang santri. Oleh karena itu, alasan mengapa Zaid makan jam delapan malam dapat kita ketahui dengan (b) bukti bahwa ia adalah seorang santri, sekaligus (a) bukti bahwa setiap santri wajib makan jam delapan malam sesuai aturan pesantren.

Sementara itu, penalaran dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan, kita sangat memerlukan data yang valid dan teori yang akurat. Mustahil kita dapat mengetahui seperti apa itu isim kalau kita tidak tahu apa itu tanwin, al, atau huruf jarr. Misalnya, untuk mengetahui Zaidun apakah kalimat isim atau fi’il, kita perlu tahu apa itu tanwin, al, dan huruf jarr. Sebab, suatu kalimat dapat dikatakan isim apabila kemasukan tanwin, al, atau huruf jarr. Dengan mengetahui bahwa Zaidun terdapat tanwin, berarti kita tahu bahwa itu adalah kalimat isim. Untuk mengetahui apa itu tanwin, lagi-lagi kita butuh membaca.

Contoh persoalan yang lebih rumit lagi, misalnya, bagaimana kita dapat mengetahui bahwa Amerika Serikat merupakan penguasa global, apabila kita tak tahu sejarahnya? Untuk memperoleh pengetahuan ini, kita tak cukup hanya berbekal doa apalagi telepati. Kita butuh sebuah informasi, yang itu bisa kita dapatkan dengan membaca. Bukankah buku telah membuat seseorang berkeliling dunia tanpa perjalanan?

Penyakit buta huruf dan fobia literasi yang telah menyelimuti kita ini bukanlah persoalan yang biasa. Hancur dan bangkitnya suatu peradaban, sangatlah dipengaruhi oleh kegiatan literasi. Bukankah awal mula kehancuran Dinasti Abbasiyah diakibatkan oleh pembakaran perpustakaan oleh pasukan Mongol Hulagu Khan? Maka, apabila kita bertanya; mengapa Indonesia sebagai pemilik sumber daya alam yang meluas justru tidak mampu bersaing dengan yang lain? Jawaban yang tepat adalah karena sumber daya manusianya gelagapan dan terbata-bata menghadapi dunia. Apa yang membuat mereka gelagapan? Tentu, lagi-lagi masalahnya karena minim literasi dan buta huruf.

Di saat yang lain merencanakan agenda untuk mengubah dunia, kita malah masih kebingungan apa yang dimaksud dengan ‘kemajuan’. Di saat yang lain memikirkan tentang gagasan, kita masih kebingungan tentang masalah bahasa. Sungguh ironi, jika penyakit fobia membaca ini, tetap kita lestarikan. Bahkan saya ragu, apakah tulisan ini dibaca atau tidak. Kalaupun dibaca, saya masih ragu, apakah pesan dari tulisan ini dimengerti atau tidak. Dan, kalaupun dimengerti, saya tetap masih ragu, apakah masalah ini disadari atau tidak.

Tak dapat dibayangkan apabila semua orang sepakat untuk tidak membaca. Juga tak dapat dibayangkan jika semua orang sepakat untuk berhenti berpikir. Berhenti berpikir, berarti kita berhenti menjadi manusia yang memiliki kodrat berpikir. Maka dari itu, marilah kembali menjadi manusia dengan cara berpikir! Marilah berpikir dengan benar layaknya manusia dengan cara membaca! Dan marilah buktikan bahwa kita manusia dengan cara menulis apa yang kita pikirkan!


*Santri Mathali’ul Anwar, Pangarangan Sumenep

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Diktator Digital! Virtual Gift DA7 Membunuh Standar Seni

26 Desember 2025 - 08:32 WIB

Trending di Kolom Santri