Oleh: Rosadi Jamani
Ketika ayah dan ibu kehilangan aura kasih, anak hampir selalu jadi korban paling sunyi. Itulah yang terasa dari ungkapan hati Zahra, putri Ridwan Kamil dan Atalia Praratya. Lewat rangkaian kalimat puitis, ia menumpahkan luka yang selama ini mungkin hanya dipeluknya sendiri. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Ada kata-kata lahir bukan dari pikiran, melainkan dari reruntuhan batin. Kata-kata Zahra mengalir seperti darah dari luka. Ia tidak mengetuk nurani, tetapi mendobraknya, lalu duduk tenang di tengah puing-puing, seolah berkata, inilah sisa-sisa yang tersisa setelah segalanya runtuh.
Tulisan itu tidak berisik, tetapi menggelegar. Tidak panjang, tetapi beratnya seperti kitab pengakuan dosa. Setiap kalimat terasa seperti palu yang dipukulkan ke dinding sunyi bernama keluarga, hukum, dan keadilan. Zahra tidak sedang menulis status media sosial. Ia sedang menggelar pengadilan batin hanya ada luka dan Tuhan.

Camillia Laetitia Azzahra, Putri Ridwan Kamil. Foto: Instagram
“Ayah, jika keadilan bumi enggan menghukummu.”
Kalimat ini terdengar lirih, tetapi meninggalkan gema panjang. Di sana ada pengakuan getir bahwa keadilan dunia kerap tertatih ketika harus mengejar mereka yang punya nama, kuasa, dan citra. Zahra seolah berkata, bumi ini punya hukum, tetapi tidak selalu punya keberanian. Maka ia berhenti berharap pada palu hakim, lalu mengangkat wajah ke langit.
“Maka biarlah setiap helai rambutku yang terbuka menjadi saksi.”
Di titik ini, kesedihan berubah menjadi ironi kejam. Tubuh perempuan, ia jadikan arsip perlawanan. Rambut, yang kerap diperdebatkan dan dipolitisasi, justru dihadirkan sebagai saksi bisu. Jika aku selalu disalahkan, seolah Zahra berkata, biarlah kesalahanku menjadi bukti. Jika aku terus dituding, biarlah tudingan itu berubah menjadi cermin.
“Menyeretmu ke pengadilan Tuhan.”
Inilah klimaks spiritual dari keputusasaan. Ketika dunia terlalu kecil untuk menampung kebenaran, manusia kerap melemparkannya ke akhirat. Tuhan menjadi hakim terakhir, tempat keadilan tak bisa disuap, ditunda, atau dinegosiasikan. Tetapi di sini juga tersembunyi tragedi, betapa seorang anak harus melangkah sejauh itu, melewati ayahnya, melewati hukum, melewati dunia, hanya untuk berharap pada keadilan.
“Nikmatilah dunia sebagaimana kau menikmati pengkhianat yang merobek keluarga kita.”
Kalimat ini tidak marah. Ia dingin, dan justru karena itu menusuk. Kata “keluarga” tidak hadir sebagai rumah, melainkan sebagai medan perang. Ada pengkhianatan, ada luka, ada sesuatu yang runtuh dari dalam. Ini bukan drama murahan, melainkan tragedi klasik, rumah megah retak di fondasi. Seperti semua tragedi besar, yang paling menderita justru mereka tak pernah memilih peran.
Unggahan itu pun viral. Media sosial berubah menjadi ruang sidang dadakan. Ada simpati, ada penghakiman, ada kebijaksanaan palsu yang tetap menikmati dramanya. Semua bicara, semua menafsir. Padahal yang berbicara hanyalah seorang anak yang lelah memikul konflik orang dewasa.
Sampai kini, keheningan masih menggantung. Tidak ada klarifikasi, tidak ada penjelasan. Diam itu bukan netral, ia adalah ruang kosong yang diisi prasangka dan luka yang perlahan membusuk.
Zahra, lengkapnya Camillia Laetitia Azzahra, lahir di Bandung, 17 Agustus 2004. Ia tumbuh di persimpangan yang tak pernah ia pilih: antara privasi dan sorotan, antara menjadi anak biasa dan simbol keluarga publik. Ia menekuni seni, pernah bernyanyi di The Voice Kids, belajar arsitektur di ITB dan Newcastle University, Inggris. Kepekaannya lahir dari kehilangan, termasuk kepergian sang kakak, Eril, yang meninggalkan duka panjang.
Tulisan Zahra bukan sekadar curahan emosi. Ia adalah potret generasi yang tumbuh di zaman ketika luka pribadi mudah menjadi konsumsi publik. Ia mengingatkan kita, di balik nama besar dan citra rapi, selalu ada manusia yang bisa terluka. Ketika luka itu akhirnya berbicara, ia tidak meminta pengadilan, ia hanya ingin didengar, sebelum berubah menjadi api yang tak lagi bisa dipadamkan.











