SIDOARJO, ISTARA – Selama bertahun-tahun, musim hujan bagi warga Perumahan Graha Al-Ikhlas, Sedati, Sidoarjo, bukan sekadar penanda pergantian cuaca, melainkan ancaman kecemasan. Setiap kali hujan turun dengan intensitas tinggi, air tak jarang menggenang, memicu kekhawatiran akan kerusakan aset hingga kenyamanan hunian.
Namun, di tengah kebuntuan itu, secercah harapan muncul. Tim akademisi dari Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya hadir membawa solusi melalui program pengabdian masyarakat yang fokus pada pembangunan sistem drainase terintegrasi di kawasan tersebut.
Infrastruktur yang Terputus
Kondisi di RT 31-33 RW 13 Perumahan Graha Al-Ikhlas memang menjadi potret kerentanan infrastruktur di kawasan pinggiran kota. Observasi lapangan yang dilakukan tim dosen Unitomo mengungkap fakta yang cukup mengkhawatirkan: sekitar 80 persen hunian di wilayah tersebut belum memiliki saluran pembuangan (selokan) yang memadai. Sementara itu, 20 persen saluran yang sudah ada pun kondisinya terputus, tidak tersambung dengan sistem drainase utama.
Ketua tim pengabdian, Rizki Astri Apriliani, S.T., M.T., melihat bahwa masalah ini bukan sekadar soal konstruksi, melainkan soal tata kelola air yang tidak berkelanjutan.
“Warga memiliki semangat gotong royong yang tinggi, namun terbentur pada keterbatasan pengetahuan teknis dan manajemen pendanaan. Kami hadir untuk menjembatani celah tersebut agar drainase yang dibangun tidak bersifat parsial, melainkan saling terhubung dari hulu ke hilir,” ujar Rizki di Sidoarjo, Rabu (11/3/2026).
Sinergi Lintas Keahlian
Dalam proyek ini, Rizki tidak bekerja sendiri. Ia memboyong tim lintas pakar teknik dari Unitomo untuk memastikan solusi yang diberikan bersifat komprehensif dan tahan lama. Tim tersebut terdiri dari Sekar Ayu Kuncaravita, S.T., M.MT; Dayat Indri Yuliastuti, S.T., M.T; Fahrul Yahya, S.T., M.T; serta M. Lawdy Dhiyaa V, S.S.T., M.T.
Pendekatan ini dianggap krusial agar pembangunan drainase tidak sekadar memindahkan masalah air, melainkan mengelola debit air secara sistemik.

Langkah akademisi Unitomo ini bukan hanya sekadar aktivitas kampus. Program ini secara strategis mendukung misi “Asta Cita” Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam hal pemerataan pembangunan infrastruktur dan perlindungan aset warga dari ancaman bencana di tingkat akar rumput.
Secara teknis, inisiatif ini juga mengacu pada koridor regulasi yang berlaku, seperti UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, PP Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai, hingga Peraturan Menteri PUPR Nomor 12/PRT/M/2014 yang menekankan pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam sistem drainase perkotaan.
Lebih luas lagi, proyek ini menjadi kontribusi nyata terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Fokus utamanya mencakup poin ke-6 mengenai air bersih dan sanitasi, poin ke-11 terkait kota dan permukiman berkelanjutan, serta poin ke-13 mengenai penanganan perubahan iklim.
Dampak bagi Warga
Program ini menyasar sekitar 100 Kepala Keluarga (KK), yang mayoritas berprofesi sebagai pekerja informal. Bagi warga, pendampingan ini adalah titik balik. Selain meminimalisir potensi konflik sosial akibat luapan air antar-kavling, keberadaan drainase yang tertata diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan tangguh menghadapi perubahan cuaca ekstrem yang semakin sulit diprediksi.
Bagi Universitas Dr. Soetomo, pendampingan ini menjadi penegasan bahwa laboratorium sesungguhnya bagi seorang akademisi bukanlah ruang kelas, melainkan masyarakat itu sendiri. Inovasi yang lahir dari kampus harus teruji dan mampu menjawab persoalan riil di tengah masyarakat urban.
Kini, warga Graha Al-Ikhlas perlahan bisa bernapas lega. Dengan sistem drainase yang mulai terintegrasi, mimpi tentang permukiman yang bebas dari genangan air bukan lagi sekadar angan.


















Komentar ditutup.