Oleh: Bima Satria Hutama, S.Hum.*
Pada tahun 2026, Indonesia sudah menginjak usia 81 tahun; usia matang untuk sebuah negara yang berdaulat. Kemerdekaan Indonesia merupakan hasil perjuangan dan perlawanan rakyat yang sudah jenuh selama beratus-ratus tahun berada di bawah otoritas bangsa penjajah. Di dalam sejarah bangsa ini, pemuda memiliki andil besar dalam menggerakkan roda perjalanan negara. Mulai dari munculnya tokoh organisasi pergerakan nasional, Sumpah Pemuda, pembacaan teks Proklamasi, hingga era Reformasi, semuanya melibatkan peran pemuda di dalamnya. Sebagai bangsa yang multietnis dan terdiri dari banyak pulau, tentunya Indonesia tidak luput dari berbagai permasalahan. Salah satu tugas rumah besar bangsa Indonesia adalah terkait dengan deforestasi dan pengentasan kemiskinan.
Dilansir dari laman Forest Watch Indonesia, sejak tahun 2021-2023, Indonesia sudah kehilangan 1,66 juta hektar hutan negara. Tentu hal ini sangat berbahaya karena akan menimbulkan banyak dampak negatif ke depannya. Dampak itu antara lain adalah hilangnya keanekaragaman hayati, bencana alam, gangguan sumber pangan, sampai dengan konflik sosial ekonomi. Di sinilah letak tugas rumah yang bukan hanya bagi pemerintah saat ini, tetapi juga menjadi tanggung jawab generasi muda sekarang dan masa depan. Pada tahun 2045, pemuda Indonesia akan didominasi oleh Generasi Alpha dan Beta. Ciri khas dari kedua generasi ini adalah penguasaan teknologi yang berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Pemanfaatan kecerdasan buatan diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang atas permasalahan deforestasi yang ada di Indonesia. Salah satu kolaborasi swasta dan pemerintah dalam memperkecil potensi deforestasi adalah dengan menggunakan aplikasi “Guardian” yang berbasis kecerdasan buatan. Dilansir dari laman Tempo, aplikasi ini mendeteksi berbagai jenis suara yang ada di hutan, mulai dari suara kendaraan, penebangan, hingga tembakan. Hal itu memudahkan tim keamanan pemerintah untuk menyusuri sumber suara dan melakukan tindakan yang terukur.
Penggunaan AI, meskipun menjadi solusi, juga dapat menjadi pisau bermata dua. Contoh buruk penggunaannya adalah konsumsi energi masif yang meningkatkan emisi karbon, penggunaan air bersih yang banyak untuk mendinginkan pusat data, sampai dengan menghasilkan limbah elektronik. Tugas generasi selanjutnya adalah mengembangkan kecerdasan buatan yang ramah lingkungan untuk mendukung kampanye pengurangan deforestasi.

Foto: Ilustrasi by AI
Masalah yang cukup riskan selanjutnya yang perlu diperhatikan oleh pemangku kebijakan dan juga generasi berikutnya adalah terkait pengentasan kemiskinan. Dilansir dari Badan Pusat Statistik (BPS), persentase kemiskinan di Indonesia tahun 2025 adalah sebanyak 8,47% (23,85 juta orang). Meskipun terdapat penurunan sebesar 0,56% pada tahun berikutnya, masalah ini tetap tidak bisa dipandang sebelah mata. Salah satu upaya untuk menurunkan angka kemiskinan adalah dengan membuka lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya. Hal itu nantinya akan meningkatkan kelayakan hidup dan menciptakan jaring pengaman sosial yang kuat serta efektif. Namun, tugas lain dalam pembukaan lapangan kerja adalah bagaimana menarik investor ke Indonesia.
Dalam menarik investor, tidak ada salahnya negara ini belajar dari tetangganya, yaitu Vietnam. Dilansir dari Kadininstitute.id, dalam satu dekade terakhir, Vietnam konsisten mencatat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Jika rata-rata pertumbuhan Indonesia berada di kisaran 5 persen per tahun, IMF memperkirakan pertumbuhan Vietnam mencapai angka sekitar 6% pada 2024 dan 6,8% pada 2025 (tertinggi di ASEAN), sedangkan Indonesia hanya diproyeksikan 4,7% pada 2025. Regulasi yang tidak berbelit-belit adalah kunci utama Vietnam mampu menarik investor berbondong-bondong. Selain itu, adanya kebijakan pemerintah Vietnam terkait tarif sewa tanah yang menguntungkan serta pembebasan beberapa tarif impor mendorong kemajuan industri yang pesat. Hal ini ditambah dengan adanya zona khusus yang berfokus pada perkembangan ekonomi yang berbeda-beda. Beberapa perusahaan besar yang akhirnya menetap di Vietnam antara lain adalah Nvidia dan Apple.
Hal tersebut merupakan tugas besar bagi pemerintah Indonesia saat ini dan generasi mendatang, bukan hanya untuk menciptakan kepercayaan bagi investor, tetapi juga menciptakan industri kreatif dan alternatif lainnya. Tentunya, hal ini sebagai upaya untuk meningkatkan taraf hidup dan mengurangi kemiskinan. Pada era revolusi teknologi komunikasi saat ini, perekonomian tidak hanya digerakkan oleh sektor industri formal, tetapi juga skala nonformal. Media sosial adalah salah satu industri nonformal yang mampu menggerakkan roda perekonomian Indonesia. Seiring berjalannya waktu, kecerdasan buatan, media sosial, dan industri lainnya akan terus berkembang. Oleh karena itu, slogan “Indonesia Emas 2045” harus benar-benar terealisasi agar tidak menjadi slogan kosong, di mana transformasi ekonomi, kepemimpinan global, dan pembangunan jangka panjang dapat terwujud dengan baik.
Presiden Soekarno di suatu kesempatan pernah berkata, “Kita ini tidak bertujuan bernegara hanya satu windu saja, kita bernegara seribu windu lamanya, bernegara buat selama-lamanya.” Serta yang paling terngiang di telinga kita adalah pidato beliau, “Beri aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia.” Hal ini tentu merupakan optimisme Soekarno dalam memandang arah masa depan bangsanya yang penuh kecerahan dan kekuatan. Sebagai penutup, saya percaya bahwa kita akan selalu memiliki harapan untuk bangsa ini. Harapan itu ada pada generasi muda penerus bangsa, generasi yang kita kenal sekarang dengan istilah Alpha dan Beta. Saya yakin dan selalu optimis bangsa ini akan menjadi bangsa yang makmur dalam berbagai aspek!
*Ketua Bidang IV – Kajian Strategis HIPMI PT Jawa Timur dan Wakil Sekretaris Umum KNPI Kota Surabaya











