Menu

Mode Gelap
Sumenep Bersolawat 2026: Syukur, Evaluasi, dan Perkuat Ukhuwah di Tengah Pembangunan Daerah Cahaya Pro Bongkar Fakta Cukai Rokok 1999 vs 2026, Jomplang 36% vs 70% Industri Rokok Minta Menkeu Purbaya Terapkan Tarif Cukai Khusus Demi Selamatkan Usaha Lokal Tak Hanya Penuhi Gizi Anak, SPPG Polres Loteng Diharapkan Gerakkan Ekonomi Petani dan UMKM Ramadhan Gerakkan Ekonomi UMKM Surabaya, Omzet Pedagang Naik Dua Kali Lipat Rindu Nasi Mandi? Nuansa Timur Tengah Ini Hadir di Surabaya

Opini & Analisis

Romantisasi Kemiskinan di Balik Slogan ‘Semua Bisa Jadi Entrepreneur’

badge-check


					Romantisasi Kemiskinan di Balik Slogan ‘Semua Bisa Jadi Entrepreneur’ Perbesar

Hari ini semua orang disuruh jualan. Belum kerja? Jual kopi! Gaji mepet? Jual kue! Ter-PHK? Buka lapak!

Indonesia tampak sangat rajin berwirausaha. Lapak makanan muncul di gang, trotoar, halaman rumah, sampai pintu belakang dapur. Di media sosial, ini sering dirayakan sebagai bukti “ekonomi rakyat hidup”.

Tapi pertanyaannya sederhana: Kalau semua orang jualan, siapa yang benar-benar naik kelas?

Banyak UMKM mikro hari ini bukan lahir dari mimpi besar, tapi dari keterpaksaan. Bukan karena melihat peluang, tapi karena pintu lain tertutup. Ini bukan cerita heroik. Ini cerita bertahan hidup.


Berputar di Tempat

Mari jujur. Kebanyakan UMKM mikro makanan beroperasi di kelas yang sama: lingkungan padat, daya beli rendah, produk murah, dan margin tipis.

  • Gorengan lawan gorengan.

  • Kopi gerobak lawan kopi gerobak.

  • Es dawet lawan es dawet.

Pembelinya? Ya orang-orang yang juga sedang menghitung sisa-sisa uang. Akhirnya yang terjadi bukan pertumbuhan, tapi putaran di tempat. Uang beredar cepat, habis cepat, dan tidak pernah menumpuk jadi modal untuk naik level.

Ini bukan soal malas atau kurang kreatif. Ini soal struktur.

Anak muda sering disuruh “naik kelas”. Tapi jarang ada yang jujur bilang: naik kelas itu mahal. Butuh standar, konsistensi, kemasan, branding, jaringan, dan kepercayaan. Semua itu butuh waktu dan modal. Dan tebak siapa yang paling jarang punya dua hal itu?


Alat Penenang

Di atas kertas, negara bangga dengan jumlah UMKM. Angkanya naik, slide presentasi cantik, slogan bertebaran. Tapi di lapangan, banyak UMKM mikro dibiarkan jalan sendiri.

Selama rakyat sibuk jualan, pengangguran tidak meledak. Selama orang bertahan hidup, negara terlihat “aman”. Di titik ini, UMKM mikro lebih mirip peredam sosial ketimbang mesin kesejahteraan. Orang tidak marah, tapi juga tidak maju.

Dan yang lebih berbahaya: kondisi ini dirayakan. Kita diajari untuk kagum pada ketangguhan rakyat, tapi jarang diajak marah pada kebijakan yang membuat rakyat harus setangguh itu.


Romantisasi

Anak muda sering dijejali narasi:

  • “Jangan nunggu kerja, ciptakan lapangan kerja.”

  • “Semua bisa jadi entrepreneur.”

  • “UMKM adalah tulang punggung ekonomi.”

Kedengarannya keren. Tapi kalau semua orang disuruh kuat sendirian, itu bukan motivasi, itu pembiaran.

Ketika UMKM mikro dipuja tanpa kritik, kegagalan negara ditutup oleh cerita heroik rakyat. Rakyat dipaksa adaptif, fleksibel, dan kreatif, sementara tangga strukturalnya tidak pernah dibangun. Akibatnya jelas:

  1. Orang kecil melayani orang kecil.

  2. Bersaing dengan orang kecil.

  3. Berebut uang orang kecil

Ekonomi bergerak, tapi keadilan diam.


Bukan Solusi

Banyak UMKM makanan hari ini adalah alarm, bukan jawaban. Alarm bahwa hidup makin mahal, kerja formal makin sempit, dan perlindungan ekonomi masih rapuh.

Yang salah bukan penjual kopi, kue, atau es. Mereka sedang berjuang. Yang perlu dipertanyakan adalah sistem yang membuat jualan murah jadi satu-satunya pilihan rasional bagi jutaan orang.

Kalau UMKM terus dirayakan tanpa keberanian mengakui akar masalahnya, yang kita rawat bukan kesejahteraan, tapi kepasrahan. Dan masa depan yang dibangun dari kepasrahan, jarang berakhir baik.


*Wartawan Tua, Pengajar Jurnalistik

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Lansia Di Era Dompet Digital: Kemudahan, Kesulitan Atau Jerat Penipuan?

25 Februari 2026 - 09:43 WIB

Puasa Komunikasi

19 Februari 2026 - 11:25 WIB

Terlambat tapi Tulus: Gen Z Minta Maaf kepada Aurellie Moeremans Usai Membaca “Broken Strings”

22 Januari 2026 - 21:34 WIB

Pajak: Antara Lingkaran Setan dan Macan Kertas

16 Januari 2026 - 14:11 WIB

Warga Desa Karangsuko Malang Kembangkan Ekonomi Lewat Wisata Alam

15 Januari 2026 - 15:46 WIB

Trending di Opini & Analisis