Menu

Mode Gelap
Bupati Sumenep Penuhi Aspirasi DPRD Melalui Mutasi dan Promosi ASN Pimpinan Pusat HIMMAH NWDI Resmi Lantik Pengurus Cabang Lombok Tengah Periode 2025–2026 Arena Seleksi Sekda Sumenep Resmi Dibuka: Siap Menguji Kepemimpinan dan Integritas Badai Hukum di Jagat Hiburan: Denada Tambunan Digugat Anak Kandung, Pengacara Alam Gaib Turun Tangan Bukti Dedikasi, AKBP Jazuli Dani Iriawan Naik Kelas ke Kabagbinkar Ro SDM Polda Jatim Ratusan Guru Honorer Tolak Dirumahkan, Kasta NTB Minta Pemkab Loteng Tidak Gegabah!

Opini & Analisis

Rusia Ubah Taktik Perang, Ukraina Kelelahan

badge-check


					Foto: Ilustrasi by AI Perbesar

Foto: Ilustrasi by AI

Oleh: Rosadi Jamani

Dari Iran, lalu ke Venezuela, sekarang saya akan ke perang tiada akhir, perang Rusia vs Ukraina. Kebetulan sudah lama tak update perang di era modern ini. Ternyata, Rusia mengubah gaya perangnya. Pelan-pelan melakukan serangan. Tidak gopoh, kata budak Pontianak. Taktik ini membuat Ukraina kelelahan. Siapkan lagi Koptagulnya, kita panaskan dengan cerita perang di negara lain, wak! Oh iya, tulisan ini terinspirasi setelah menonton youtube channel Kratan Update.

Ini perang paling aneh abad ini. Aneh karena tidak kelihatan seperti perang, tapi peta Ukraina terus mengecil pelan-pelan. Pelan, sabar, konsisten. Seperti cicilan motor, kecil tiap bulan, tapi bikin pusing di akhir. Inilah perang Rusia–Ukraina versi modern, tanpa heroisme berlebihan, tanpa hari penentuan, tapi penuh kelelahan kolektif.

Rusia sekarang tidak lagi main cepat-cepat seperti awal 2022. Itu fase trial-error. Sekarang mereka naik level, perang atrisi. Bahasa kasarnya, bikin lawan capek duluan. Sebelum satu wilayah jatuh, daerah itu sudah “dipijat” artileri berminggu-minggu. Parit rata, gudang amunisi hilang, logistik putus. Kalau wilayah itu manusia, sudah minta cuti panjang.

Lalu muncullah aktor utama perang modern, drone. Drone pengintai nongkrong di udara kayak mantan yang belum move on. Drone FPV nyambar kendaraan, posisi tembak, bahkan pasukan kecil. Setelah pertahanan Ukraina lelah lahir batin, infanteri Rusia masuk pelan-pelan, unit kecil, senyap, tanpa gaya. Banyak wilayah jatuh bukan karena kalah perang besar, tapi karena dipertahankan pun sudah tidak manusiawi secara hitungan korban.

Ukraina sebenarnya berani. Jangan salah. Tapi keberanian tanpa logistik itu seperti nekat balapan pakai motor bensin sisa. Rusia punya artileri dan amunisi banyak. Bisa nembak tiap hari tanpa mikir besok makan apa. Ukraina? Nunggu bantuan Barat. Datangnya bertahap, kadang telat, kadang disertai pesan WhatsApp: “Boleh dipakai, tapi jangan ke sana ya.” Perang tapi pakai syarat dan ketentuan berlaku.

Belum lagi tentaranya. Banyak prajurit Ukraina berbulan-bulan di parit tanpa rotasi layak. Capek fisik, capek mental, capek mikir masa depan. Di langit, Ukraina juga kalah pamor. Tanpa kekuatan udara, serangan balasan besar itu ibarat jalan malam tanpa lampu. Drone Rusia lihat semua. Begitu pasukan ngumpul, artileri langsung turun. Belum apa-apa, sudah bubar.

Akhirnya Ukraina realistis. Tidak lagi mimpi ofensif heroik. Sekarang fokus bertahan. Parit diperdalam, ranjau diperluas, tiap kilometer dibuat mahal. Bukan buat menang cepat, tapi bikin Rusia mikir, “Wilayah kecil kok mahal amat?” Harapan kini bernama drone murah. Produksi massal, ganggu logistik Rusia, serang artileri. Sambil itu, Ukraina jaga kota besar, listrik, air, dan fungsi negara. Wilayah boleh berkurang, tapi negara jangan sampai KO.

Rusia sendiri? Setelah wilayah direbut, langsung dipaku mati. Benteng, ranjau, pertahanan udara. Intinya, sudah punya, jangan sampai direbut balik. Setelah itu, lanjut tekan ekonomi dan energi Ukraina. Serangan jarak jauh jalan terus. Perang ini tidak dibuat cepat selesai. Justru dibuat terasa mahal setiap hari, buat Ukraina dan pendukungnya. Bonusnya, wilayah rebutan jadi kartu tawar di meja negosiasi.

NATO? Secara resmi marah. Secara praktik, hati-hati. Mereka dukung Ukraina, tapi ogah perang langsung. Bantuan terus mengalir, tapi fokus defensif, pertahanan udara, amunisi, pelatihan, anti-drone. Bukan senjata sakti, tapi alat bertahan hidup. Di Eropa, politisi mulai capek. Rakyat mikir harga listrik. Dunia pun makin abu-abu. Banyak negara pilih netral. Rusia dikritik, tapi tidak dikucilkan total.

Jangan-jangan perang ini memang tidak dimaksudkan untuk cepat selesai. Semua pihak tahu, perang panjang melelahkan semua orang, tapi juga menguntungkan sebagian. Industri senjata jalan, peta politik berubah, dunia sibuk bertengkar. Di lapangan nyawa manusia melayang setiap menit.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Sudah 20 Tewas, 1.000 Demonstran Ditangkap di Iran, Trump Tebar Ancaman

6 Januari 2026 - 16:26 WIB

Cuan Dua Digit Modal Canva dan CapCut: Cara Gen Z Mandiri Ekonomi

5 Januari 2026 - 12:17 WIB

Peran Pemuda Menyongsong 100 Tahun Indonesia Merdeka

4 Januari 2026 - 10:23 WIB

Aceh, Sumatra, dan Sepotong Roti yang Tak Sanggup Kutelan

2 Januari 2026 - 14:21 WIB

Rakyat Miskin (Baru) Kota

31 Desember 2025 - 18:46 WIB

Trending di Opini & Analisis