Menu

Mode Gelap
Sumenep Bersolawat 2026: Syukur, Evaluasi, dan Perkuat Ukhuwah di Tengah Pembangunan Daerah Cahaya Pro Bongkar Fakta Cukai Rokok 1999 vs 2026, Jomplang 36% vs 70% Industri Rokok Minta Menkeu Purbaya Terapkan Tarif Cukai Khusus Demi Selamatkan Usaha Lokal Tak Hanya Penuhi Gizi Anak, SPPG Polres Loteng Diharapkan Gerakkan Ekonomi Petani dan UMKM Ramadhan Gerakkan Ekonomi UMKM Surabaya, Omzet Pedagang Naik Dua Kali Lipat Rindu Nasi Mandi? Nuansa Timur Tengah Ini Hadir di Surabaya

Opini & Analisis

Rusia Ubah Taktik Perang, Ukraina Kelelahan

badge-check


					Foto: Ilustrasi by AI Perbesar

Foto: Ilustrasi by AI

Oleh: Rosadi Jamani

Dari Iran, lalu ke Venezuela, sekarang saya akan ke perang tiada akhir, perang Rusia vs Ukraina. Kebetulan sudah lama tak update perang di era modern ini. Ternyata, Rusia mengubah gaya perangnya. Pelan-pelan melakukan serangan. Tidak gopoh, kata budak Pontianak. Taktik ini membuat Ukraina kelelahan. Siapkan lagi Koptagulnya, kita panaskan dengan cerita perang di negara lain, wak! Oh iya, tulisan ini terinspirasi setelah menonton youtube channel Kratan Update.

Ini perang paling aneh abad ini. Aneh karena tidak kelihatan seperti perang, tapi peta Ukraina terus mengecil pelan-pelan. Pelan, sabar, konsisten. Seperti cicilan motor, kecil tiap bulan, tapi bikin pusing di akhir. Inilah perang Rusia–Ukraina versi modern, tanpa heroisme berlebihan, tanpa hari penentuan, tapi penuh kelelahan kolektif.

Rusia sekarang tidak lagi main cepat-cepat seperti awal 2022. Itu fase trial-error. Sekarang mereka naik level, perang atrisi. Bahasa kasarnya, bikin lawan capek duluan. Sebelum satu wilayah jatuh, daerah itu sudah “dipijat” artileri berminggu-minggu. Parit rata, gudang amunisi hilang, logistik putus. Kalau wilayah itu manusia, sudah minta cuti panjang.

Lalu muncullah aktor utama perang modern, drone. Drone pengintai nongkrong di udara kayak mantan yang belum move on. Drone FPV nyambar kendaraan, posisi tembak, bahkan pasukan kecil. Setelah pertahanan Ukraina lelah lahir batin, infanteri Rusia masuk pelan-pelan, unit kecil, senyap, tanpa gaya. Banyak wilayah jatuh bukan karena kalah perang besar, tapi karena dipertahankan pun sudah tidak manusiawi secara hitungan korban.

Ukraina sebenarnya berani. Jangan salah. Tapi keberanian tanpa logistik itu seperti nekat balapan pakai motor bensin sisa. Rusia punya artileri dan amunisi banyak. Bisa nembak tiap hari tanpa mikir besok makan apa. Ukraina? Nunggu bantuan Barat. Datangnya bertahap, kadang telat, kadang disertai pesan WhatsApp: “Boleh dipakai, tapi jangan ke sana ya.” Perang tapi pakai syarat dan ketentuan berlaku.

Belum lagi tentaranya. Banyak prajurit Ukraina berbulan-bulan di parit tanpa rotasi layak. Capek fisik, capek mental, capek mikir masa depan. Di langit, Ukraina juga kalah pamor. Tanpa kekuatan udara, serangan balasan besar itu ibarat jalan malam tanpa lampu. Drone Rusia lihat semua. Begitu pasukan ngumpul, artileri langsung turun. Belum apa-apa, sudah bubar.

Akhirnya Ukraina realistis. Tidak lagi mimpi ofensif heroik. Sekarang fokus bertahan. Parit diperdalam, ranjau diperluas, tiap kilometer dibuat mahal. Bukan buat menang cepat, tapi bikin Rusia mikir, “Wilayah kecil kok mahal amat?” Harapan kini bernama drone murah. Produksi massal, ganggu logistik Rusia, serang artileri. Sambil itu, Ukraina jaga kota besar, listrik, air, dan fungsi negara. Wilayah boleh berkurang, tapi negara jangan sampai KO.

Rusia sendiri? Setelah wilayah direbut, langsung dipaku mati. Benteng, ranjau, pertahanan udara. Intinya, sudah punya, jangan sampai direbut balik. Setelah itu, lanjut tekan ekonomi dan energi Ukraina. Serangan jarak jauh jalan terus. Perang ini tidak dibuat cepat selesai. Justru dibuat terasa mahal setiap hari, buat Ukraina dan pendukungnya. Bonusnya, wilayah rebutan jadi kartu tawar di meja negosiasi.

NATO? Secara resmi marah. Secara praktik, hati-hati. Mereka dukung Ukraina, tapi ogah perang langsung. Bantuan terus mengalir, tapi fokus defensif, pertahanan udara, amunisi, pelatihan, anti-drone. Bukan senjata sakti, tapi alat bertahan hidup. Di Eropa, politisi mulai capek. Rakyat mikir harga listrik. Dunia pun makin abu-abu. Banyak negara pilih netral. Rusia dikritik, tapi tidak dikucilkan total.

Jangan-jangan perang ini memang tidak dimaksudkan untuk cepat selesai. Semua pihak tahu, perang panjang melelahkan semua orang, tapi juga menguntungkan sebagian. Industri senjata jalan, peta politik berubah, dunia sibuk bertengkar. Di lapangan nyawa manusia melayang setiap menit.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Lansia Di Era Dompet Digital: Kemudahan, Kesulitan Atau Jerat Penipuan?

25 Februari 2026 - 09:43 WIB

Puasa Komunikasi

19 Februari 2026 - 11:25 WIB

Romantisasi Kemiskinan di Balik Slogan ‘Semua Bisa Jadi Entrepreneur’

11 Februari 2026 - 13:12 WIB

Terlambat tapi Tulus: Gen Z Minta Maaf kepada Aurellie Moeremans Usai Membaca “Broken Strings”

22 Januari 2026 - 21:34 WIB

Pajak: Antara Lingkaran Setan dan Macan Kertas

16 Januari 2026 - 14:11 WIB

Trending di Opini & Analisis