Menu

Mode Gelap
HUT Surabaya ke-733 Dirayakan Meriah, Djaman Doeloe Resto Hadirkan Wayang Kulit dan Pasar Rakyat ORADO Jatim Libatkan UMKM Produksi Peralatan Turnamen Domino Sengketa Lahan di Desa Bilelando: Eksekusi Ditunda Polisi, Pengacara Ungkap Dugaan Cacat Hukum Formil Sambut Idul Adha, ITDC Salurkan 21 Hewan Kurban dari Peternak Lokal ke Desa Penyangga Mandalika Hanaka Social Space Surabaya Ajak Anak Muda Peduli Lingkungan Lewat Gerakan Tanam Hijau Sensasi Nonton Film Indie di Bawah Langit Surabaya Barat Lewat Cinema Under The Stars

Sosial & Lingkungan

Tarot Berubah Wajah, dari Ramalan Menuju Alat Refleksi Diri

badge-check


					Deasy Ariesta atau Desta menjelaskan tarot sebagai alat refleksi diri, bukan ramalan Perbesar

Deasy Ariesta atau Desta menjelaskan tarot sebagai alat refleksi diri, bukan ramalan

Surabaya, ISTARA — Masyarakat kini mulai meninggalkan anggapan bahwa tarot identik dengan praktik klenik. Seiring perubahan ini, banyak orang melihat tarot sebagai alat untuk memahami diri, bukan sekadar meramal masa depan.

Hal tersebut disampaikan oleh Deasy Ariesta, atau yang dikenal dengan sapaan Desta. Ia menegaskan bahwa tarot tidak berfungsi sebagai alat prediksi. “Tarot itu bukan ramalan,” ujarnya.

Tarot Membantu Membaca Kondisi Diri

Menurut Desta, kartu tarot berperan sebagai simbol yang membantu seseorang memahami kondisi psikologis dan emosionalnya. Dengan demikian, pembacaan tarot tidak bertujuan menentukan masa depan.

“Yang dibaca bukan masa depan, tetapi kondisi diri saat ini,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa setiap kartu mencerminkan pola pikir, konflik batin, serta dinamika hidup yang sedang terjadi. Oleh karena itu, tarot dapat membantu seseorang melihat situasi secara lebih jernih.

Peran Pembaca Tarot Kini Berubah

Perubahan cara pandang ini juga mendorong pergeseran peran pembaca tarot. Mereka kini berperan sebagai fasilitator yang membantu menginterpretasikan simbol.

Namun demikian, individu tetap memegang kendali atas keputusan hidupnya. Pembaca tarot hanya membantu membuka perspektif, bukan menentukan arah.

Stigma Klenik Mulai Bergeser

Di sisi lain, Desta menilai stigma “klenik” muncul karena sebagian orang menggunakan tarot sebagai penentu keputusan hidup. Akibatnya, muncul ketergantungan yang justru mengaburkan fungsi tarot.

Sebaliknya, jika seseorang menggunakan tarot sebagai alat refleksi, ia dapat memahami persoalan secara lebih rasional.

Cara Bertanya Ikut Berubah

Perubahan ini juga memengaruhi cara masyarakat mengajukan pertanyaan. Sebelumnya, banyak orang berfokus pada apa yang akan terjadi. Kini, mereka mulai bertanya tentang kondisi yang sedang mereka alami.

Pada akhirnya, pendekatan ini menempatkan tarot sebagai cermin untuk membaca ulang arah hidup secara sadar, bukan sebagai alat untuk mencari kepastian.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Sambut Idul Adha, ITDC Salurkan 21 Hewan Kurban dari Peternak Lokal ke Desa Penyangga Mandalika

25 Mei 2026 - 21:40 WIB

Hanaka Social Space Surabaya Ajak Anak Muda Peduli Lingkungan Lewat Gerakan Tanam Hijau

23 Mei 2026 - 20:13 WIB

DKPP Pacitan Latih Petani Buat Pestisida Nabati Ramah Lingkungan

13 Mei 2026 - 07:14 WIB

Aktivis Bajingan

6 April 2026 - 20:04 WIB

Masjid Mujahidin dan Detikzone Bersinergi, Santunan Akbar 150 Anak Yatim, Dhuafa, dan Penggali Kubur Jadi Teladan Sosial di Sumenep

18 Maret 2026 - 21:39 WIB

Trending di Sosial & Lingkungan