SURABAYA – Komunitas Inisiatif Film Surabaya (INFIS) bersama Pemerintah Kota Surabaya dan Kemenparekraf RI menyelenggarakan forum kolaborasi film di Balai Pemuda Surabaya pada Kamis, (4/12/25).
Forum yang merupakan bagian dari program BRANSEY Film Lab ini bertujuan merumuskan kerangka kerja nyata untuk membangun ekosistem film berkelanjutan di Surabaya melalui kemitraan dengan industri kreatif Liverpool, Inggris.
Program ini digagas oleh Fauzan Abdillah dari INFIS, didukung penuh oleh British Council Creative Cities (CTC), serta menghadirkan praktisi dari Liverpool, Lynne dan Alixir (First Take), serta akademisi lokal Citra Rani Angga Riswari (Fikom Unitomo) dan Garcia (Unipa).
Tiga Kelemahan Ekosistem Lokal
Citra Rani Angga Riswari, S.Sos., M.Med.Kom., dalam pemaparannya, menyoroti pentingnya forum ini sebagai ruang belajar tentang bagaimana film dapat terintegrasi dengan sistem dan komunitas nyata (real systems and real communities).
Ia mengakui pertumbuhan pesat industri kreatif Surabaya yang didorong oleh generasi muda dan dukungan pemerintah/kampus. Namun, Citra menegaskan perlunya penanganan struktural untuk mencapai keberlanjutan.
“Kami melihat ada tiga kebutuhan mendasar: pelatihan yang konsisten, pendanaan yang terstruktur, dan ruang pemutaran yang memadai,” ujarnya.
Tanpa tiga pilar tersebut, potensi besar ekosistem film Surabaya dinilai rentan.
Citra juga menekankan bahwa esensi film haruslah pesan yang berdampak, mampu menginformasikan, mendidik, membujuk, dan menghibur.
“Ketika empat unsur ini hadir, film menjadi jembatan perubahan,” katanya, mengaitkan fokus akademis Fikom Unitomo pada literasi film berbasis kolaborasi internasional.
Model Penta Helix Liverpool
Dari sisi internasional, Lynne dari First Take Liverpool membagikan pengalaman bahwa film di Liverpool tidak hanya berfungsi sebagai seni, tetapi juga sebagai alat perubahan sosial, pendidikan iklim, dan penguatan komunitas.
“Sinergi berjalan karena pemerintah, kampus, komunitas, dan media bekerja bersama. Film menjadi ruang untuk menghubungkan semuanya,” jelas Lynne, menegaskan model kerja penta helix yang efisien.
Senada dengan Lynne, Alixir menambahkan bahwa forum seperti BRANSEY ini menjadi fondasi bagi karya lintas negara yang resilient dan berdampak.
“Model kerja penta helix adalah yang kami tawarkan. Kegiatan ini adalah langkah kuat untuk membangun hubungan kreatif antara Liverpool dan Surabaya,” katanya.
Fauzan Abdillah, penggagas forum, menegaskan bahwa hasil kegiatan ini harus diterjemahkan menjadi aksi konkret.
“Ini bukan hanya forum diskusi, tetapi fondasi untuk membangun struktur kolaborasi nyata. Tujuannya adalah ekosistem film Surabaya yang inklusif, kuat, dan berkelanjutan,” tegas Fauzan.
Forum ditutup dengan komitmen bahwa gagasan yang dirumuskan akan menjadi peta jalan (roadmap) menuju langkah implementasi konkret pada tahun 2026 dan seterusnya, guna memperkuat jejaring global Surabaya sebagai kota kreatif.











