Oleh – Leonita*
Nama ku Maharani, Panggil saja Rani. Kisah ini berawal ketika aku berusia 16 tahun. Seminggu lagi aku akan resmi menjadi siswa yang berseragam putih abu-abu. Yey senang sekali rasanya. Buku-buku sudah ku persiapkan dengan rapih, namun anehnya kenapa ayah dan ibuku belum juga membelikan seragam putih abu-abu itu, bukankah aku sudah bilang tepat setelah penumuman kelulusan itu aku ingin melanjutkan sekolah di salah satu SMA favorit di sini, tapi sampai detik ini mereka tak bilang apapun mengenai itu.
Ketika aku menuju ruang tengah, disana ada ayah dan ibu, namun seketika kaki ku berhenti melangkah saat mendengar apa yang dibicarakan oleh mereka.
“Ah itu sudah ayah urus bu.” Ucap ayah. Mendengar itu tentu saja aku sangat senang sepertinya mereka sudah mengurus untuk sekolahku. Jawab ibu “Duaarr.. apa katanya, apa aku tidak salah dengar?” “Apaa?” ucapku spontan ketika mendengar apa yang ibu katakan, kemudian ayah dan ibu menoleh ke arahku. Mereka terkejut kedapatan obrolannya terdengar oleh ku.
“Ibu bilang apa tadi bu? Rani salah dengar kan?” ucapku meminta penjelasan pada ibu. Namun Ayah dan ibu hanya saling tatap, tampaknya mereka bingung harus mulai darimana untuk menjelaskannya kepadaku.
“Nak.. ayah dan ibu ingin kamu menjadi seorang hafidzah ini pilihan terbaik buat kamu.” Ibu pun mulai angkat bicara.
“Kamu jangan khawatir, kamu tetap bisa bersekolah, disana ada MAN, Pondok pesantren itu asuhan teman ayah nak, jadi ayah percaya untukmu disana.” Ucap ayah. Sungguh aku tak bisa berkata sedikitpun tumpah sudah air mataku. Apa katanya, kenapa tidak ada yang bilang dari awal.
“Apa ayah dan ibu tidak mau mengurus Rani lagi? Rani menyusahkan ya, Rani selalu seperti anak kecil, iya?” ucapku dengan terbata-bata dengan nada yang sedikit ditekan..
“Rani, ini sudah kesepakatan. Menjadi seorang hafidzah itu mulia nak” Ucap ayah yang berusaha meyakinkanku.
“Nggak, Rani nggak mau. Kalau memang Rani menyusahkan Rani bisa hidup mandiri, Rani bisa jaga diri, Rani nggak mau..” Ucapku dengan nada yang sedikit tinggi.
“Rani, berani kamu ngelawan perintah orang tua, sudah! lusa kamu akan pergi ke pesantren itu.” Ucap ayahku dengan nada tinggi, tak ku sangka respon ayahku seperti itu, hacur rasanya.
“Nak..” panggil ibuku. Aku tak menjawabnya rasanya sangat sakit ketika ternyata tidak ada yang membelaku lantas ku berlari menuju kamar meninggalkan mereka yang masih terdiam. Tolong aku tidak mau di pesantren.” tangis ku benar-benar pecah didalam kamar ini.
~~~
Baiklah, setelah kejadian itu cukup menamparku, aku tak banyak bicara dengan ayah dan ibu. Aku menangis dalam kama, aku bahkan tidak tau apa-apa, mengaji belum lancar, pakai jilbab saja sangat jarang. Aku benci keadaan ini.
Kini hari itu tiba, hari dimana aku akan pergi ke Pesantren dan meninggalkan rumah serta mimpiku untuk bersekolah di SMA yang ku inginkan. Fikiranku masih saja enggan namun hatiku tak kuasa menolak ayah dan ibu bagaimanapun aku amat menyayangi kedua orang tuaku.
“Nak, sudah siap?” Ibu ku muncul dari balik pintu kamar, aku hanya diam tak menggubris pertanyaannya. Jujur aku masih marah dengan ayah ibu maupun abangku.
“Maafkan ibu dan ayah yang tak memberitau sebelumnya. Percaya lah nak, ayah dan ibu ingin yang terbaik untukmu, putri ayah dan ibu satu-satunya ini harus mengerti kerasnya dunia ini jika tidak didampingi oleh ilmu agama yang matang, nanti jagalah hafalan al- Qur’anmu itu yaa dan kelak ketika ayah dan ibu sudah tiada, diakhirat nanti tolong cari ayah dan ibu, karena sebagai anak kau bisa menarik orangtuamu untuk bersama dijalan yang benar.” ucap ibu, aku tak paham apa maksud ibu, namun hatiku terenyuh ketika mendengarnya. Kemudian ku menatap ibu dengan penuh rasa salah karena masih marah kepadanya.
“Tapi bu, Rani tidak tau apa-apa, bahkan ilmu agama yang ibu maksud, Rani tidak tau.” Akhirnya ku beranikan diri untuk menjawab
“Ya, karena ketidaktauanmu itu akan menjadi tau ketika kau memasuki dunia Pesantren dan mempelajari al-Qur’an itu nak.” Ucap ibu
“Belajarlah disana dengan sungguh-sungguh, buat ayah ibu bangga ya. Ibu doakan semoga kau betah disana, kaulah aset berharga bagi kami, lihat dirimu kau amat cantik menggunakan pakaian seperti ini.” Ucap ibu kembali. Air mata ku sukses meluncur ketika ibu memelukku, baru kali ini aku berbicara sedalam ini dengan ibu. Aku tak tau harus membalasnya dengan apa.
~~~
Sesampainya di pesantren, aku terkagum melihat betapa megahnya bagunan-bangunan pesantren yang katakanlah jauh lebih modern. Gerbang hijaunya menjuang tinggi dengan baangunan yang bergaya klasik dipadukan cat berwarna hijau muda itu menambah kesan indah pada pesantren ini.
“Kamu pasti akan betah disini.” Ucap ayah ketika baru saja turun dari mobil setelah memarkirkannya
Setelah semua administrasi pendaftaran selesai, ayah dan ibu akan pergi meninggalkan ku disini sendiri, ya nggak sendiri sih disini sangat amat banyak orang-orang yang tak kukenali satu pun.
“Rani, jaga dirimu baik-baik ya nak, kamu akan belajar banyak hal disini.” Ucap ibu lantas memeluk ku
“Anak ayah jangan manja lagi ya.” Ucap ayah sembari mengusap kepala ku. Aku tak tau harus berkata apa.
~~~
“Peringkat Pertama dengan nilai rata-rata 98,7 diberikan kepada… Maharani..” sang pembawa acara mengumuman peringkat dari kelulusan ini, riuh tepuk tangan terdengar seisi aula. Ya tak ku sangka nama ku menjadi yang pertama. Ayah dan Ibu spontan terkejut dan meneteskan air mata bahagia.
Tak terasa 3 tahun berlalu, kini aku aku dinyatakan telah lulus MAN atau setara SMA dengan nilai sempurna. Lucu memang mengingat ketika aku merengek tidak mau untuk pesantren, tapi pada akhirnya banyak sekali hal yang membuka fikiran, mata dan hatiku.
Semuanya benar-benar diluar dugaan. Benar yang ibu katakan aku belajar banyak hal disini, dari ketidaktauanku menjadi tau, di pesantren ini aku menjadi seorang hafidzah, mempelajari al-Qur’an benar-benar membuatku tersadar, hingga kini al-Quran sudah seperti bagian dari hidupku, memberi petunjuk dan menuntunku kejalan Nya.
Lingkungan di pesantren memang berbeda, oh bahkan aku sangat menyukainya. Jujur saja di awal aku sangat tidak betah dan kerap kali merengek minta pulang pada teman sekamarku, hal gila terlintas dibenakku untuk kabur. Tapi nihil itu tak pernah terjadi hingga perlahan aku mulai beradaptasi. Semuanya mudah bila kita terus maju dan hadapi itu.
-Selesai-
- Penulis merupakan Mahasiwa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di (UNY).











