Pemandangan seperti ini makin sering terjadi: orang tua yang dulu mengandalkan uang tunai, kini mulai terbiasa menerima transfer, memakai mobile banking, bahkan memindai QR untuk bayar kebutuhan sehari-hari. Digitalisasi memang membantu, lebih praktis, cepat, dan terasa “modern”. Tapi bersamaan dengan itu muncul sisi gelap yang tak kalah cepat seperti penipuan keuangan digital yang menjadikan lansia sebagai sasaran paling empuk.
Ini bukan sekadar cerita “gaptek”. Banyak kasus terjadi pada lansia yang sebenarnya cukup berpengalaman mengelola uang, bahkan punya tabungan, pensiun, atau aset. Kelemahan lansa ada pada satu hal, bahwa modus penipuan digital tidak menyerang logika finansial, tapi menyerang emosi dan kepercayaan.
Beberapa kejadian penipuan memiliki modus dengan pola yang berulang, seperti (1) Aduan penipuan digital meningkat seiring masifnya transaksi online. Laporan terkait akun diambil alih, penipuan berkedok layanan pelanggan, investasi ilegal, hingga pinjaman online ilegal terus muncul di berbagai kanal pengaduan, (2) Kerugian publik sangat besar. Dalam beberapa tahun terakhir, otoritas dan satgas penanganan aktivitas keuangan ilegal berkali-kali mengungkap jaringan investasi bodong/pinjol ilegal dengan total kerugian yang tidak kecil, bahkan sering disebut mencapai skala miliaran hingga triliunan rupiah secara akumulatif, (3) Korban tidak mengenal batas wilayah dan kelas sosial. Penipuan terjadi di kota besar maupun daerah, pada keluarga menengah maupun rentan. Namun lansia punya kerentanan spesifik dan itulah yang dimanfaatkan pelaku.

Ilustrasi Jebakan Digital bagi Lansia (Foto: by AI)
Mengapa lansia jadi sasaran empuk? Ada beberapa alasan yang membuat lansia lebih rentan. Bukan karena lansia kehilangan kepandaiannya, tetapi kombinasi faktor psikologis, sosial, dan desain teknologi membuat lansia mejadi sasaran yang dituju para penipu. Yang kedua adalah kepercayaan para lansia yang relatif tinggi pada otoritas. Generasi lansia cenderung menghormati figur resmi seperti “petugas bank”, “CS”, “kantor pusat”, “pemerintah”. Pelaku kemudian memanipulasi dengan mengaku sebagai bagian dari otoritas, menggunakan bahasa formal, memakai foto profil logo instansi, bahkan membuat nomor mirip call center.
Biasanya para penipu juga memberikan deadline waktu, tinggal ‘hari ini’ atau semacamnya. Tekanan waktu membuat logika menjadi kalah dan memunculkan kepanikan. Kalimat seperti “kalau tidak sekarang akun diblokir” memicu panik. Saat panik, orang cenderung mengabaikan prosedur dan mengikuti instruksi.
Kesenjangan literasi digital, bahkan bukan tentang literasi keuangan. Banyak lansia paham menabung, mengatur pengeluaran, dan tidak mudah tergiur. Namun keamanan digital berbeda: OTP, phishing, izin aplikasi, SIM swap, remote access—ini bukan pengetahuan yang mereka dapatkan di masa muda. Ini kemajuan teknologi yang memang agak sulit dicerna bagi para lansia yang lahir dan besar pada era manua.
Faktor lain yang juga tak kalah penting adalah faktor kesepian dan kebutuhan ditemani. Sebagian lansia lebih sering berinteraksi lewat ponsel. Pelaku memanfaatkan percakapan hangat, perhatian, bahkan pendekatan emosional (“Ibu, saya bantu ya…”, sehat selalu ya bu, saya sayang kok sama ibu”) agar korban merasa aman. Ini membuat orang merasa akrab, dan ujung-ujungnya mudah untuk ditipu. Dan penipu tahu bahwa lansia sering punya “nilai ekonomi” lebih Dana pensiun, tabungan, atau hasil menjual aset membuat mereka dianggap target yang menguntungkan. Pelaku juga tahu, korban lansia kadang malu bercerita sehingga penipuan terlambat terdeteksi. Bahkan terkadang ada unsur takut untuk bercerita kepada keluarga dan anaknya.
Saat lansia masuk ke ekosistem keuangan digital, mereka membawa harapan: hidup lebih mudah, transaksi lebih cepat, anak-cucu lebih tenang. Tapi tanpa literasi yang tepat, lansia justru masuk ke arena yang penuh jebakan. Melindungi lansia adalah urusan bersama, buka hanya urusan keluarga per keluarga. Apakah kita sudah memastikan lansia-lansia dalam keluarga kita aman saat memakainya?











