OLEH: LAMRI IBRAHIM*
Di ujung usia senja,
Rindu mengembara,
Sajak-sajak kenangan,
Melambai di persimpangan.
Mega melukis rekah,
Tatkala malam menjemput jingga,
Rona berbisik mesra,
Hingga rindu singgah dalam jiwa.
Seperti gemuruh panjang,
Kotamu berdesir dalam ingatan,
Sedang lantunan ayat tuhan,
Tersya’ir dengan nada kesyahduan.
Duh merdunya!
Dari huruf yang terangkai menjadi kata,
Dari kata yang tersusun menjadi kalimat,
Dari kalimat yang terangkum menjadi ayat,
Dari ayat yang tersajak menjadi nada,
Dari nada yang tercipta menjadi rindu.
Senja menghilang,
Malam menghitam,
Aku menyelam,
Pada tabir yang mulai usang,
Dan semuanya, terasa asing.
Aku berlari ketengah sunyi,
Saat rembulan tengah tenggelam.
Malam merintih,
Bintang menepi,
sedang Gelora,
Biarlah ia bersemayam dalam nadi.
Awan memuram,
Angin mencekam,
Langit menikam,
Bumi melebam,
Rindupun menghujam.
Sunyi telah hakiki,
Resah memanggil,
Tubuh menggigil,
Bayangmu mengukir,
Dan rindupun mengalir.
Senyap bertahta di dalam jiwa,
Dialog sepi, mengalun hampa,
Kata tak mampu melawan lupa,
Tatkala lara bersajak atas nama derita.
Sedang pada malam yang jujur,
Rintih mengembala perih,
Perih menyumbat sesak,
Sesak mengajak pengap,
Pengap meminta Sajak,
Dan sajak menyambut rindu.
Pada malam yang jujur,
Ku kisahkan gejolak air mata,
Orkestra lara bersorak atas nama derita,
Simfoni mengiringi beserta luka.
Pengantin sunyi,
Berhias dalam sepi,
Dayang bersolek bersama hening,
Nada terputar di kesenyapan,
Seraya bermolek dengan canda yang mulai candu,
Dari rindu yang tersulam dalam bayang kehampaan.
Duh bintang!
Adakah kerlipmu, berpijar di keheningan?
Kelam mencekam menakutkan,
Bayang terkekang memilukan,
Sebab kini,
Kini malam terlalu pongah!
Rindu menyusup tanpa lengah,
Sajak kehilangan kata dengan makna,
Sedang aku, aku menapaki jejak meski sirna.
Dan Kini, biarkan
Rindu memuja…
*Penyair Pulau Seberang











