SUMENEP, ISTARA – Di tengah gempuran modernitas yang mendisrupsi tatanan sosial, hukum syariat Islam dituntut untuk terus berdialog dengan realitas. Di Kabupaten Sumenep, denyut dialog itu terjaga melalui Forum Kajian Kitab Kuning (FK3). Forum ini bukan sekadar ruang debat, melainkan wadah filantropi intelektual yang mempertemukan para musyawirin, santri dan kiai pakar hukum syariat, untuk membedah problematika umat.
Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar, Pangarangan, menjadi saksi bagaimana teks-teks klasik (Kitab Kuning) dipanggil kembali untuk menjawab keresahan kontemporer. Dalam tajuk Bahtsul Masail yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar pada Senin (5/1/2026), FK3 mengangkat tema yang sangat dekat dengan denyut ekonomi lokal: “Dilema Toko Kelontong Madura”.
Mencari Titik Tengah Syariat
Pemilihan tema ini bukan tanpa alasan. Toko kelontong Madura, yang kini menjamur hingga pelosok nusantara, menjadi tulang punggung ekonomi banyak keluarga. Namun, dari kacamata syariat yang ketat, tak jarang praktik di lapangan bersinggungan dengan status fasid atau batal.
Dialog yang berlangsung dinamis sejak pukul 08.00 WIB hingga kumandang iqamah Zuhur itu akhirnya melahirkan solusi jalan tengah. FK3 memposisikan diri sebagai jembatan yang menengahi idealisme hukum Tuhan dengan realitas sosial. Prinsipnya jelas: mencari kemaslahatan agar praktik ekonomi masyarakat tetap selaras dengan nafas agama, mengingat Islam adalah agama yang memudahkan (yusrun).
“Hal ini membuktikan jati diri FK3 sebagai kelompok filantropis yang peduli pada aspek religiusitas sekaligus ketahanan ekonomi umat,” tulis laporan kegiatan tersebut.
Memacu Literasi Kitabiyah
Kunjungan ke PP Mathali’ul Anwar merupakan putaran keenam sekaligus penutup masa transisi FK3 sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Lebih dari sekadar pemecahan masalah hukum, kehadiran forum ini menjadi suplemen bagi ekosistem pendidikan di pesantren-pesantren Sumenep.
Ustadz Moh Saif Abdillah, Pengurus sekaligus Ketua LBM PP Mathali’ul Anwar, menegaskan bahwa forum ini adalah motor penggerak literasi di kalangan santri.
“Kami sangat mendukung kegiatan Bahtsul Masail FK3 ini karena sangat menunjang minat literasi kitabiyah di pesantren, terutama di Mathali’ul Anwar. Setiap kali ada acara, kami akan terus berusaha mengirimkan delegasi di mana pun lokasinya. Hal inilah yang membuat LBM PPMA saat ini sedang gencar melakukan bahtsul masail untuk meningkatkan literasi kitabiyah para santri dan juga agar dapat ikut berkontribusi dalam acara FK3 ini,” ujar Saif dalam sambutannya.
Konsistensi dan Harapan
FK3 telah bertransformasi menjadi institusi non-formal yang vital bagi Sumenep. Perannya dalam memberikan dukungan intelektual bagi santri dan masyarakat menempatkan para anggotanya sebagai tokoh filantropis di jalur literasi syar’i.
Penutupan acara tersebut diwarnai dengan harapan besar akan keberlanjutan tradisi intelektual ini. Seorang santri dari PP Al-Bustan menyampaikan kesan mendalamnya di penghujung acara.
“Harapannya, semoga FK3 tetap konsisten, dan kita semua (para musyawirin) bisa bertemu lagi dalam kesempatan lain, baik dalam debat, dialog, maupun pembahasan lainnya.”
Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, langkah FK3 mengingatkan kita bahwa literasi bukan sekadar membaca teks, melainkan upaya tiada henti untuk membumikan teks tersebut demi kemaslahatan manusia.











