SUMENEP, ISTARA – Konser amal Valen DA7 di Sumenep boleh megah dan meriah, tapi kenyataan di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Donasi yang terkumpul hanya Rp71 juta, dan yang lebih mengejutkan, tidak ada keterbukaan siapa saja donatur yang berperan serta.
“Donaturnya ini siapa, dari mana saja, nilainya berapa? Tidak disebutkan. Donasi apa-apaan macam ini, tolong hargai donaturnya,” kritik Rendi, pemerhati kebijakan publik.
Rendi berharap, ke depan, panitia dan penyelenggara konser di Sumenep bisa lebih transparan.
“Publik berhak tahu siapa saja yang berkontribusi, dari mana, dan nilainya berapa. Jangan sampai nama besar artis atau panggung megah menutupi ketidakjelasan donatur. Jika memang misi kemanusiaan serius, keterbukaan adalah kewajiban,” tegasnya.
Ia menyebut, transparansi tidak hanya soal menghitung rupiah, tapi juga soal menghargai setiap donatur, besar maupun kecil. Dengan begitu, publik bisa ikut mengawasi dan mendorong partisipasi yang lebih luas, sekaligus memastikan donasi benar-benar sampai kepada yang membutuhkan.
“Kalau sejak awal niatnya kemanusiaan, jangan cuma menjadi hiburan megah tanpa hasil signifikan. Publik harus melihat hasilnya, bukan sekadar panggung dan euforia sesaat,” pungkas Rendi.
Ironisnya, di tengah kontroversi soal donatur misterius dan minimnya partisipasi elite lokal, petugas kebersihan Sumenep tetap menjadi pahlawan nyata. Mereka membersihkan sisa ego dan sampah yang tercecer, membuktikan bahwa kepedulian sesungguhnya terkadang datang dari pihak yang tak terlihat.
“Dibalik semua itu, pahlawan sejati bukan mereka yang berdiri di atas panggung, melainkan mereka yang tulus membersihkan jejak sampah yang berserakan,” tegas Rendi, menyoroti kontras nyata antara citra kemanusiaan dan realitas di lapangan.
Melihat hasil konser amal Valen DA7 di Sumenep, fakta yang muncul jelas mengecewakan. Panggung megah dan penonton membludak, namun donasi yang terkumpul hanya Rp71 juta, dan tidak ada kejelasan siapa saja donatur yang berperan serta.
Kontrasnya terlihat ketika dibandingkan dengan Pamekasan. Di sana, konser serupa berhasil menghimpun Rp1,112 miliar, dengan nama-nama donatur besar yang tercatat jelas, mulai pejabat, pengusaha, hingga komunitas.
Transparansi itu membuat publik tahu siapa yang menyumbang dan berapa nilainya, sesuatu yang tidak ada di Sumenep.











