PONTIANAK, ISTARA – Zaman benar-benar sudah berubah, dan perubahan itu di Pontianak terasa seperti arus Sungai Kapuas saat pasang surut, tenang di permukaan, tapi diam-diam menggerus tepian. Buku, yang dulu kita sebut jendela dunia, kini seperti Tugu Khatulistiwa, tegak berdiri, penuh makna, tapi lebih sering dijadikan latar foto ketimbang tempat merenung. Dunia memilih jendela baru bernama AI. Cepat, instan, bercahaya. Sementara buku, pelan-pelan, direduksi jadi benda nostalgia.
Kesedihan itu saya temukan di sebuah perpustakaan kecil di Taman Alun Kapuas, Pontianak. Bangunannya unik, rapi, seolah perahu kayu yang disiapkan untuk menyeberangi sungai pengetahuan. Di depannya, seorang petugas berseragam Pemkot Pontianak duduk menyeruput kopi. Setia. Sunyi. Saya bertanya apakah perpustakaan itu buka dan bolehkah mahasiswa saya membaca di dalam. Wajahnya langsung menyala, seperti lampu taman yang jarang disentuh saklar. Namanya Pak Dani.
Di dalam, ada sekitar tiga ribu judul buku. Bukan angka simbolik, ini data nyata. Tiga ribu judul di satu perpustakaan kecil. Pontianak punya lima perpustakaan taman seperti ini, di Digulis Untan, Taman Catur dekat Polnep, Taman Akcaya, Tanjung Raya 1, dan Taman Alun Kapuas. Artinya, belasan ribu buku disiapkan negara untuk warganya. Ditambah WiFi gratis, tinggal minta password ke petugas dan AC yang membuat ruangan adem, seperti angin sore di tepian Kapuas.
Saya bertanya pertanyaan yang selalu membuat literasi menunduk malu, “Ramai pengunjungnya, Pak?” Pak Dani menjawab dengan suara yang sudah berkali-kali mengulang kenyataan pahit. “Sekarang lumayan, Pak. Sehari rata-rata empat orang. Dulu paling satu orang. Kadang tak ada sama sekali.”
Empat orang per hari. Angka itu menghantam lebih keras dari panas khatulistiwa. Perpustakaan dibangun dengan biaya tidak kecil, dengan mimpi besar agar warga Pontianak cerdas lewat buku. Tapi yang datang hanya segelintir. Selebihnya mungkin sibuk menatap layar, seperti orang berdiri di tepi Sungai Kapuas tapi memilih meminum air kemasan, lupa dari mana kehidupan kota ini mengalir.
Pemkot Pontianak sebenarnya sudah berusaha. Buku diletakkan di taman, di ruang publik, berharap orang mampir setelah olahraga atau sekadar berteduh. Bahkan, menurut Pak Dani, sudah dibangun pula perpustakaan besar di Jalan Ampera dengan biaya miliaran rupiah. Gedung besar, dana besar, harapan besar. Tapi harapan itu seperti lidah buaya Pontianak, dikenal luas, tapi jarang benar-benar diolah dengan sabar. Semua tahu manfaatnya, sedikit yang mau merasakan pahitnya proses.
Di tengah kesenyapan itu, saya memberi kuliah di dalam perpustakaan. Rak-rak buku menjadi saksi. Pak Dani membagikan formulir agar mahasiswa menjadi anggota. Sebuah usaha kecil yang terasa seperti menanam pohon di bantaran sungai, hasilnya tak instan, tapi penting agar tanah tak runtuh. Setelah menjelaskan arti penting membaca, saya minta mahasiswa membuka buku dan membaca sebelum pulang. Minimal mengenal kembali, ini buku, bukan ringkasan AI, bukan potongan teks digital yang dibaca sambil lalu.
Saya sadar, mahasiswa hari ini lebih akrab dengan layar dari halaman kertas. Mereka membaca, iya, tapi jarang menyelam. Mereka tahu banyak hal, tapi sering kehilangan kedalaman. Jika tren ini terus berlanjut, buku kertas mungkin akan bernasib seperti perahu kayu tua di Kapuas, disimpan rapi, dipelihara, tapi jarang dipakai berlayar.
Tulisan ini adalah bagian kecil dari kampanye literasi saya. Tidak heroik, tidak viral, bahkan mungkin dianggap ketinggalan zaman. Tapi Pontianak dibangun bukan hanya oleh sungai dan garis khatulistiwa, melainkan oleh manusia yang mau belajar perlahan. Jika suatu hari nanti perpustakaan hanya diisi oleh AC yang dingin dan buku yang berdebu, jangan sepenuhnya menyalahkan zaman atau teknologi. Kita sendiri yang terlalu cepat meninggalkan buku, lalu menyebut kepergian itu sebagai kemajuan.
Kontributor: Rosadi Jamani











