SEJARAH, ISTARA – Pamekasan bukan sekadar deretan perbukitan kapur atau hamparan garam yang memutih di bawah terik matahari Madura. Di balik riuhnya pasar batik dan deru mesin kendaraan di sepanjang Jalan Panglima Sudirman, tersimpan narasi besar tentang kekuasaan, spiritualitas, dan diplomasi yang telah berdenyut selama ratusan tahun.
Dari “Pamelingan” Menuju Jantung Madura
Sejarah Pamekasan tidak bisa dilepaskan dari nama Pamelingan. Syahdan, pada abad ke-15, wilayah ini hanyalah sebuah daerah bawahan dari Kerajaan Majapahit. Namun, sejarah mencatat momentum krusial pada tanggal 3 November 1530, ketika Panembahan Ronggosukowati memulai pemerintahannya.
Ronggosukowati bukan sekadar penguasa; ia adalah arsitek peradaban. Di tangannyalah, pusat pemerintahan dipindahkan dari Kraton Labangan Daja ke Kraton Mandhilaras. Pemindahan ini bukan tanpa alasan. Secara geopolitik, ia ingin membangun pusat kekuatan yang lebih terbuka namun tetap memiliki pertahanan alami yang kuat. Tanggal penobatan beliau inilah yang kini kita peringati sebagai Hari Jadi Kabupaten Pamekasan.
Kota Seribu Ulama, Sejuta Santri
Jika Yogyakarta bangga dengan julukan Kota Pelajar, maka Pamekasan adalah Kota Pendidikan Islam. Karakter religius masyarakatnya bukan tempelan. Sejarah mencatat Pamekasan sebagai titik temu para ulama besar Nusantara.
Keberadaan Pondok Pesantren besar seperti Banyuanyar (salah satu pesantren tertua di Madura, berdiri sejak 1787) dan Penyepen telah membentuk genetik sosial masyarakat Pamekasan: tangguh, disiplin, namun penuh tawadhu. Hubungan antara umara (pemerintah) dan ulama di sini adalah dwitunggal yang sulit dipisahkan, menciptakan stabilitas politik yang unik sepanjang sejarahnya.
Diplomasi di Balik Guratan Canting
Berbicara Pamekasan tanpa menyebut Batik adalah sebuah kekeliruan sejarah. Jika Batik Jawa dikenal dengan pola geometris yang kaku dan penuh filosofi keraton, Batik Pamekasan adalah manifestasi kebebasan.
Warna merah “Mengkudu” yang berani dan motif flora-fauna yang ekspresif menggambarkan jiwa orang Pamekasan: jujur dan apa adanya. Sejak zaman kolonial, batik ini bukan hanya komoditas ekonomi, melainkan alat diplomasi budaya yang dibawa hingga ke daratan Eropa dan Asia Timur oleh para pedagang Madura yang ulung.
Gerbang Masa Depan: Modernitas Tanpa Kehilangan Jati Diri
Kini, Pamekasan sedang bersolek. Dari pembangunan infrastruktur hingga upaya menduniakan Karapan Sapi sebagai identitas budaya tak benda, kabupaten ini sedang berusaha keluar dari bayang-bayang masa lalu.
Tantangannya adalah bagaimana menjaga warisan Panembahan Ronggosukowati—semangat perubahan dan kemandirian—tetap hidup di tengah arus modernisasi. Pamekasan tidak ingin hanya menjadi tempat transit di jalur lintas Madura. Ia ingin kembali menjadi pusat, sebagaimana posisinya di masa kejayaan Mandhilaras.
Menyusuri Pamekasan adalah perjalanan waktu. Kita bisa merasakan hembusan angin laut di pantai Talang Siring, sekaligus mencium aroma dupa dan sejarah di situs-situs pemakaman raja-raja di panggung keramat. Pamekasan adalah bukti bahwa Madura bukan hanya soal ketangguhan fisik, tapi juga tentang kehalusan budi dan kedalaman sejarah yang patut dirayakan oleh bangsa ini.











