Oleh-Lamri Ibrahim*
Jogja tak lagi sama Ci,
Tak ada tawa maupun air mata,
Apalagi, rangkaian peristiwa.
Aku melihat gemerlap di berbagai arah,
Mendengar gemuruh ditengah kota,
Tapi rasanya Ci, hambar tak tersisa.
Bayang bergelantungan,
Kenangan bergentayangan,
Sedang aku, sibuk memutar waktu,
Memintal ingatan yang pergi kian menjauh.
Suara tengah meraung-raung Ci!
Begitu juga gumam, tak mau berhenti,
Merapal mantra maupun do’a-do’a
Di sudut tugu itu,
Kini biarkan Jogja ternyenyak
Dalam dekapan kosa kata.
*Penyair Pulau Seberang











