Menu

Mode Gelap
HUT Surabaya ke-733 Dirayakan Meriah, Djaman Doeloe Resto Hadirkan Wayang Kulit dan Pasar Rakyat ORADO Jatim Libatkan UMKM Produksi Peralatan Turnamen Domino Sengketa Lahan di Desa Bilelando: Eksekusi Ditunda Polisi, Pengacara Ungkap Dugaan Cacat Hukum Formil Sambut Idul Adha, ITDC Salurkan 21 Hewan Kurban dari Peternak Lokal ke Desa Penyangga Mandalika Hanaka Social Space Surabaya Ajak Anak Muda Peduli Lingkungan Lewat Gerakan Tanam Hijau Sensasi Nonton Film Indie di Bawah Langit Surabaya Barat Lewat Cinema Under The Stars

Sosial & Lingkungan

Gempa Pacitan M5,5 Disusul Getaran Kuat di Sejumlah Wilayah, BMKG Tegaskan Gempa Siang Hari Berpusat di Bantul

badge-check


					Gempa Pacitan M5,5 Disusul Getaran Kuat di Sejumlah Wilayah, BMKG Tegaskan Gempa Siang Hari Berpusat di Bantul Perbesar

  1. PACITAN – Kabupaten Pacitan diguncang gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,5 pada Selasa pagi (27/1/2026) pukul 08.20.44 WIB. Gempa tersebut berpusat di darat, tepatnya di Desa Nogosari, Kecamatan Ngadirojo, dan dirasakan cukup kuat oleh warga di sejumlah wilayah Pacitan serta daerah sekitarnya.

Awalnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis episentrum gempa berada di Desa Wonosidi, Kecamatan Tulakan. Namun setelah dilakukan pemutakhiran data, BMKG meralat lokasi pusat gempa yang sebenarnya berada di Desa Nogosari, Kecamatan Ngadirojo.

Kepala Pelaksana BPBD Pacitan, Erwin Andriyatmoko, membenarkan adanya perubahan koordinat tersebut berdasarkan hasil analisis lanjutan BMKG.

“Pada rilis awal disebutkan di Wonosidi, namun setelah pembaruan data, episentrum yang benar berada di Desa Nogosari, Kecamatan Ngadirojo,” ujar Erwin dalam keterangan persnya, Selasa (27/1/2026).

BMKG sempat memetakan jalur Sesar Grindulu yang membentang dari wilayah Wonoasri Ngadirojo hingga ke arah barat menuju Kebonagung. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa gempa darat Pacitan berkaitan dengan aktivitas sesar aktif tersebut.

Namun hasil koordinasi BPBD Pacitan dengan BMKG Stasiun Geofisika Nganjuk memastikan bahwa gempa Pacitan bukan dipicu oleh Sesar Grindulu.

“Gempa Pacitan merupakan gempa jenis intraslab yang disebabkan pergerakan fluida ke atas kerak bumi di sepanjang zona patahan kuno. Perubahan tekanan dan suhu di dalam lempeng, serta pengaruh aktivitas vulkanik menjadi pemicunya. Jenis gempa darat seperti ini jarang terjadi,” jelas Erwin.

Beberapa jam setelah gempa Pacitan, warga di Pacitan dan sejumlah wilayah Jawa Timur serta Daerah Istimewa Yogyakarta kembali merasakan getaran gempa cukup terasa pada Selasa siang sekitar pukul 13.15 WIB. Banyak warga mengira getaran tersebut merupakan gempa susulan dari peristiwa pagi hari di Pacitan.

Namun BMKG kemudian memastikan bahwa getaran yang dirasakan siang hari tersebut bukan merupakan gempa susulan Pacitan, melainkan gempa bumi tektonik berbeda yang berpusat di wilayah Bantul, DIY.

Berdasarkan analisis BMKG, gempa Bantul memiliki magnitudo 4,5 dengan episentrum di darat sekitar 16 kilometer arah timur Bantul pada koordinat 7,87 Lintang Selatan dan 110,49 Bujur Timur, dengan kedalaman 11 kilometer.

Kepala Stasiun Geofisika Sleman, Ardhianto Septiadhi, menyampaikan bahwa gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas Sesar Opak.

“Gempa yang terjadi di Bantul merupakan gempa dangkal akibat aktivitas Sesar Opak dan tidak memiliki keterkaitan langsung dengan gempa Pacitan pagi harinya,” terang Ardhianto.

Getaran gempa Bantul dirasakan di Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo, Sleman, Kota Yogyakarta, serta Klaten dengan intensitas III MMI. Sementara di Wonogiri, Purworejo, Trenggalek, Solo, Pacitan, dan Magelang dirasakan pada skala II MMI.

BMKG memastikan gempa Bantul tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Hingga pukul 13.45 WIB, tercatat sebanyak 14 kali gempa susulan dengan magnitudo terbesar M2,0.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak terpancing isu yang belum terverifikasi, serta selalu mengikuti informasi resmi melalui kanal komunikasi resmi BMKG. (**)

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Sambut Idul Adha, ITDC Salurkan 21 Hewan Kurban dari Peternak Lokal ke Desa Penyangga Mandalika

25 Mei 2026 - 21:40 WIB

Hanaka Social Space Surabaya Ajak Anak Muda Peduli Lingkungan Lewat Gerakan Tanam Hijau

23 Mei 2026 - 20:13 WIB

DKPP Pacitan Latih Petani Buat Pestisida Nabati Ramah Lingkungan

13 Mei 2026 - 07:14 WIB

Tarot Berubah Wajah, dari Ramalan Menuju Alat Refleksi Diri

12 April 2026 - 19:35 WIB

Deasy Ariesta atau Desta menjelaskan tarot sebagai alat refleksi diri, bukan ramalan

Aktivis Bajingan

6 April 2026 - 20:04 WIB

Trending di Sosial & Lingkungan