Menu

Mode Gelap
Sumenep Bersolawat 2026: Syukur, Evaluasi, dan Perkuat Ukhuwah di Tengah Pembangunan Daerah Cahaya Pro Bongkar Fakta Cukai Rokok 1999 vs 2026, Jomplang 36% vs 70% Industri Rokok Minta Menkeu Purbaya Terapkan Tarif Cukai Khusus Demi Selamatkan Usaha Lokal Tak Hanya Penuhi Gizi Anak, SPPG Polres Loteng Diharapkan Gerakkan Ekonomi Petani dan UMKM Ramadhan Gerakkan Ekonomi UMKM Surabaya, Omzet Pedagang Naik Dua Kali Lipat Rindu Nasi Mandi? Nuansa Timur Tengah Ini Hadir di Surabaya

Sosial & Lingkungan

Sulap Limbah Abu Batu Bara Menjadi Nilai Tambah Ekonomi

badge-check


					Sulap Limbah Abu Batu Bara Menjadi Nilai Tambah Ekonomi Perbesar

​SITUBONDO – Paradigma lama yang melihat industri sekadar sebagai produsen energi kini mulai ditinggalkan. Di Kabupaten Situbondo, PT Paiton Operation & Maintenance Indonesia (POMI), pengelola Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton, sedang merintis babak baru melalui sinergi inovatif dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Situbondo. Kolaborasi ini bertujuan menciptakan ekonomi sirkular yang memberdayakan masyarakat melalui pemanfaatan limbah sisa pembakaran batu bara.

​Komitmen ini ditegaskan oleh Presiden Director POMI, Sugiyanto, saat menerima kunjungan kerja Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo (Mas Rio), di kompleks PLTU Paiton pada Senin (10/11/25). Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan yang telah dirintis sejak September, khususnya fokus pada pengelolaan fly ash dan bottom ash (FABA).

​“Hari ini kami menindaklanjuti kesepakatan dengan Pemkab Situbondo, khususnya mengenai pemanfaatan fly ash dan bottom ash hasil pembakaran batu bara,” ujar Sugiyanto.

​Ia menjelaskan bahwa regulasi terbaru dari pemerintah pusat telah mengubah status kedua material tersebut dari kategori Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) menjadi limbah non-B3. Perubahan status ini membuka peluang besar. FABA kini dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat lokal, mulai dari bahan baku paving block, urukan jalan, hingga material konstruksi lainnya.

​“Sekarang statusnya non-B3. Jadi bisa memberi nilai tambah bagi warga Situbondo, bukan sekadar sisa pembakaran,” jelas Sugiyanto, menekankan potensi ekonomi bagi warga sekitar.

​POMI melihat pemanfaatan limbah ini sebagai langkah nyata dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat. Sugiyanto menegaskan filosofi tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) yang dianut POMI:
1. Masyarakat adalah subyek, bukan obyek.
2. CSR terbaik adalah ketika warga mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

​Selain inovasi limbah, kolaborasi POMI dan Pemkab Situbondo mencakup aspek lingkungan dan sosial:
1. ​Revitalisasi Kampung Blekok: Salah satu program nyata adalah dukungan POMI untuk perbaikan fasilitas di Kampung Blekok, kawasan pesisir yang merupakan ikon ekowisata Situbondo sejak 2005. Setelah sempat meredup akibat pandemi, POMI berkomitmen mendukung upaya Pemkab dan warga untuk menghidupkan kembali destinasi edukatif tersebut.
2. ​Dukungan Pendidikan: POMI juga rutin memberikan beasiswa kepada pelajar SMA hingga mahasiswa di Situbondo maupun Probolinggo sebagai bentuk tanggung jawab sosial di sektor pendidikan.

​Sugiyanto memastikan bahwa kerja sama dengan dua daerah operasional ini akan berjalan secara proporsional. “Prinsip kami sederhana: kolaborasi yang berkelanjutan harus memberi manfaat merata bagi semua pihak,” tegasnya.

​Bupati Situbondo, Mas Rio, menyambut baik sinergi ini, menilai langkah POMI selaras dengan visi Pemkab untuk mewujudkan gerakan “Situbondo Naik Kelas”. Gerakan ini fokus pada pembangunan terpadu yang berbasis inovasi, pelestarian lingkungan, dan partisipasi aktif masyarakat.

​“Blueprint-nya sudah kami siapkan. Kami butuh mitra industri seperti POMI agar Situbondo bisa benar-benar naik kelas,” ujar Mas Rio optimis.

​Ia menilai kolaborasi ini membuktikan bahwa kemajuan daerah dapat dicapai tanpa mengorbankan aspek lingkungan. Pemkab Situbondo pun menyatakan kesiapan untuk mendukung penuh langkah POMI, baik melalui regulasi maupun pendampingan teknis, demi memastikan pengelolaan FABA berjalan produktif, aman, dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi warga.

​Kerja sama strategis ini diharapkan menjadi model kemitraan bagi industri energi dan pemerintah daerah dalam mewujudkan pembangunan hijau yang berkelanjutan. Dengan dukungan POMI, Situbondo berpotensi menjadi salah satu daerah percontohan penerapan ekonomi sirkular di Jawa Timur.

​Kolaborasi ini mengirimkan pesan kuat: bahwa energi sejati bukan hanya yang menggerakkan turbin, melainkan juga yang menumbuhkan kehidupan, memberdayakan masyarakat, dan mengubah sisa produksi menjadi sumber daya baru.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

BIP Sumenep Mengetuk Pintu Langit, Ribuan Anak Yatim, Ojol dan Warga Miskin Rasakan Sentuhan Kemanusiaan

16 Februari 2026 - 15:04 WIB

Jejak Ketekunan Anak Desa, Siti Aisyah Putri Payudan Daleman Kini Resmi Menyandang Gelar Dokter

10 Februari 2026 - 13:05 WIB

Baksos HPN 2026: PWI NTB dan MIM Foundation Kirim Ratusan Paket Logistik di Praya Barat Daya

31 Januari 2026 - 07:49 WIB

Gempa Pacitan M5,5 Disusul Getaran Kuat di Sejumlah Wilayah, BMKG Tegaskan Gempa Siang Hari Berpusat di Bantul

27 Januari 2026 - 15:44 WIB

Musibah Tak Menghentikan Kepedulian, Pemkab Sumenep–BAZNAS Hadir Lewat RSIB untuk Korban Kebakaran

22 Januari 2026 - 23:50 WIB

Trending di Sosial & Lingkungan