Breaking News

Hukum & Kebijakan

Wamenkum: Pasal 218 KUHP Bukan untuk Bungkam Kritik

Perbesar

Wamenkum Edward Omar Sharif Hiariej atau Eddy Hiariej (kiri) dan Menkum Supratman Andi Agtas (kanan). Foto: Yeni Lestari/Viva

JAKARTA, ISTARA – Wakil Menteri Hukum (Wamenkum), Edward Omar Sharif Hiariej, yang akrab disapa Eddy Hiariej, memberikan penjelasan mendalam terkait urgensi Pasal 218 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Pasal yang mengatur tentang penghinaan terhadap Presiden dan Wakil Presiden ini seringkali memicu perdebatan hangat di ruang publik.

Eddy menegaskan bahwa keberadaan pasal ini bukan sebagai alat untuk memberangus kebebasan berpendapat, melainkan sebuah bentuk perlindungan terhadap simbol negara.

Logika Perlindungan Simbol Negara
Dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Hukum, Jakarta Selatan, Senin (5/1/26), Eddy mengajak publik untuk melihat aturan ini dengan kacamata yang lebih luas. Ia membandingkan bagaimana hukum internasional pun menghormati martabat pemimpin negara lain.

“Harkat dan martabat kepala negara asing dilindungi, tetapi kok harkat dan martabat kepala negara sendiri tidak dilindungi?” ujar Eddy.

Menurutnya, secara filosofis hukum pidana berfungsi untuk melindungi tiga pilar: negara, masyarakat, dan individu. Dalam hal ini, Presiden dan Wakil Presiden dipandang bukan sekadar individu biasa, melainkan representasi dari bangsa itu sendiri.

“Presiden dan Wakil Presiden itu adalah personifikasi suatu negara, sehingga mengapa pasal ini harus ada,” tuturnya.

Instrumen Pencegah Anarki
Selain aspek filosofis, Eddy menyoroti fungsi praktis Pasal 218 sebagai instrumen pengendalian sosial. Mengingat Presiden dipilih melalui mandat rakyat, terdapat basis pendukung besar yang memiliki keterikatan emosional. Tanpa adanya jalur hukum yang jelas, penghinaan dikhawatirkan memicu aksi main hakim sendiri oleh massa pendukung.

“Bisa bayangkan kalau pendukungnya tidak menerima Presiden dan Wakil Presiden-nya itu dihina, terus kemudian terjadi anarkis. Lalu apa yang mau kita katakan?” ucap Eddy.

Ia menyebut pasal ini sebagai bentuk kanalisasi, sebuah saluran legal agar kemarahan pendukung bisa diredam karena negara sudah mengambil tindakan hukum.

“Tapi dengan adanya pasal ini, kalau ada bahasanya kan seperti ini, ‘Wong Presiden saja yang dihina tidak apa-apa kok, yang pendukungnya marah?’. Jadi ini adalah kanalisasi,” lanjut dia.

Kritik vs Penghinaan: Dua Hal Berbeda
Menutup penjelasannya, Eddy menjamin bahwa ruang demokrasi tetap terbuka lebar. Ia meminta masyarakat membaca Pasal 218 beserta penjelasannya secara utuh agar tidak terjadi salah tafsir. Negara tetap menjamin hak warga untuk mengkritik kebijakan pemerintah.

“Kritik dan menghina itu dua hal yang berbeda. Yang dilarang dalam Pasal 218 adalah menista atau memfitnah,” pungkas Eddy.

Facebook Comments Box

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Polemik Komisaris Bank NTB Syariah, Logis NTB Desak Musyafirin Mundur

5 Okt 2026 - 11:23 WIB

Gandeng Pemprov Jatim, LPSK Serahkan Rp1,225 Miliar Korban Bom Surabaya

1 Okt 2026 - 19:00 WIB

Konsultan Hukum PDAM Kantongi Bukti Chat WhatsApp Pendemo Minta Rp20 Juta

8 Sep 2026 - 18:15 WIB

Kasus Yudi Surya, Djoni Sudjatmoko Pertanyakan Pengawasan Platform Judi Online

30 Agu 2026 - 16:47 WIB

Kejar Cuan di Higgs Games Island, Yudi Surya Berakhir di Penjara

19 Agu 2026 - 19:01 WIB

Trending di Hukum & Kebijakan

Ketuk kotak tautan di atas lalu tahan untuk menyalin.

Exit mobile version