Hari ini semua orang disuruh jualan. Belum kerja? Jual kopi! Gaji mepet? Jual kue! Ter-PHK? Buka lapak!
Indonesia tampak sangat rajin berwirausaha. Lapak makanan muncul di gang, trotoar, halaman rumah, sampai pintu belakang dapur. Di media sosial, ini sering dirayakan sebagai bukti “ekonomi rakyat hidup”.
Tapi pertanyaannya sederhana: Kalau semua orang jualan, siapa yang benar-benar naik kelas?
Banyak UMKM mikro hari ini bukan lahir dari mimpi besar, tapi dari keterpaksaan. Bukan karena melihat peluang, tapi karena pintu lain tertutup. Ini bukan cerita heroik. Ini cerita bertahan hidup.
Berputar di Tempat
Mari jujur. Kebanyakan UMKM mikro makanan beroperasi di kelas yang sama: lingkungan padat, daya beli rendah, produk murah, dan margin tipis.
-
Gorengan lawan gorengan.
-
Kopi gerobak lawan kopi gerobak.
-
Es dawet lawan es dawet.
Pembelinya? Ya orang-orang yang juga sedang menghitung sisa-sisa uang. Akhirnya yang terjadi bukan pertumbuhan, tapi putaran di tempat. Uang beredar cepat, habis cepat, dan tidak pernah menumpuk jadi modal untuk naik level.
Ini bukan soal malas atau kurang kreatif. Ini soal struktur.
Anak muda sering disuruh “naik kelas”. Tapi jarang ada yang jujur bilang: naik kelas itu mahal. Butuh standar, konsistensi, kemasan, branding, jaringan, dan kepercayaan. Semua itu butuh waktu dan modal. Dan tebak siapa yang paling jarang punya dua hal itu?
Alat Penenang
Di atas kertas, negara bangga dengan jumlah UMKM. Angkanya naik, slide presentasi cantik, slogan bertebaran. Tapi di lapangan, banyak UMKM mikro dibiarkan jalan sendiri.
Selama rakyat sibuk jualan, pengangguran tidak meledak. Selama orang bertahan hidup, negara terlihat “aman”. Di titik ini, UMKM mikro lebih mirip peredam sosial ketimbang mesin kesejahteraan. Orang tidak marah, tapi juga tidak maju.
Dan yang lebih berbahaya: kondisi ini dirayakan. Kita diajari untuk kagum pada ketangguhan rakyat, tapi jarang diajak marah pada kebijakan yang membuat rakyat harus setangguh itu.
Romantisasi
Anak muda sering dijejali narasi:
-
“Jangan nunggu kerja, ciptakan lapangan kerja.”
-
“Semua bisa jadi entrepreneur.”
-
“UMKM adalah tulang punggung ekonomi.”
Kedengarannya keren. Tapi kalau semua orang disuruh kuat sendirian, itu bukan motivasi, itu pembiaran.
Ketika UMKM mikro dipuja tanpa kritik, kegagalan negara ditutup oleh cerita heroik rakyat. Rakyat dipaksa adaptif, fleksibel, dan kreatif, sementara tangga strukturalnya tidak pernah dibangun. Akibatnya jelas:
-
Orang kecil melayani orang kecil.
-
Bersaing dengan orang kecil.
-
Berebut uang orang kecil
Ekonomi bergerak, tapi keadilan diam.
Bukan Solusi
Banyak UMKM makanan hari ini adalah alarm, bukan jawaban. Alarm bahwa hidup makin mahal, kerja formal makin sempit, dan perlindungan ekonomi masih rapuh.
Yang salah bukan penjual kopi, kue, atau es. Mereka sedang berjuang. Yang perlu dipertanyakan adalah sistem yang membuat jualan murah jadi satu-satunya pilihan rasional bagi jutaan orang.
Kalau UMKM terus dirayakan tanpa keberanian mengakui akar masalahnya, yang kita rawat bukan kesejahteraan, tapi kepasrahan. Dan masa depan yang dibangun dari kepasrahan, jarang berakhir baik.
*Wartawan Tua, Pengajar Jurnalistik











