Menu

Mode Gelap
Sumenep Bersolawat 2026: Syukur, Evaluasi, dan Perkuat Ukhuwah di Tengah Pembangunan Daerah Cahaya Pro Bongkar Fakta Cukai Rokok 1999 vs 2026, Jomplang 36% vs 70% Industri Rokok Minta Menkeu Purbaya Terapkan Tarif Cukai Khusus Demi Selamatkan Usaha Lokal Tak Hanya Penuhi Gizi Anak, SPPG Polres Loteng Diharapkan Gerakkan Ekonomi Petani dan UMKM Ramadhan Gerakkan Ekonomi UMKM Surabaya, Omzet Pedagang Naik Dua Kali Lipat Rindu Nasi Mandi? Nuansa Timur Tengah Ini Hadir di Surabaya

Opini & Analisis

Puasa Komunikasi

badge-check


					Yuli Zulaikha, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Dr. Soetomo. (Foto: Pribadi)  Perbesar

Yuli Zulaikha, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Dr. Soetomo. (Foto: Pribadi) 

ISTARA – Hari ini masyarakat muslim Indonesia mulai menjalankan ibadah puasa. Sebagian bahkan sudah memulainya kemarin. Puasa artinya menahan diri, menahan hawa nafsu, dari makan, minum, emosi dan lain-lain termasuk menahan untuk tidak bergibah.

Tapi bisakah manusia berpuasa komunikasi, dalam arti benar-benar tidak menjalin komunikasi dengan makhluk lain? Secara teoritis, puasa komunikasi total hampir mustahil dilaksanakan. Itu karena manusia hidup dalam jaringan tanda: bahasa, isyarat, dan keberadaan sosial. Bahkan ketika kita diam, kita tetap “berkomunikasi” lewat gestur, pilihan hadir atau tidak hadir, jejak digital, hingga keputusan untuk tidak merespons. Di ruang publik, kita tak bisa sepenuhnya memutus interaksi karena banyak kegiatan mengharuskan orang untuk berkomunikasi : tatapan, antrean, transaksi, dan sistem layanan, semua menuntut minimal koordinasi.

Foto: Ilustrasi by AI

Bagaimana dengan si introvert? Introversi bukan tidak membutuhkan komunikasi, melainkan perbedaan cara mengisi energi. Banyak introvert pulih lewat kesunyian, tetapi tetap memerlukan hubungan yang bermakna, walau jumlahnya sedikit. Puasa komunikasi jangka pendek seperti mengurangi notifikasi, menunda percakapan yang melelahkan, atau memilih komunikasi tertulis, bisa menjadi strategi regulasi emosi dan menjaga batas personal. Namun puasa yang ekstrem dan berkepanjangan berisiko menimbulkan isolasi, ruminasi, kecemasan sosial yang makin menguat, bahkan gejala depresi pada sebagian orang.

Banyak penelitian mahasiswa yang menyoroti konsumsi media sosial seperti TikTok dan instagram dan pengaruhnya terhadap kecemasan sosial. Nyatanya kecemasan sosial bukan hanya datang dari konsumsi informasi yang membeludak, tetapi juga bisa datang dari kesunyian dan keterbatasan komunikasi dengan orang lain.

Identitas kita sebagai manusia dibentuk lewat relasi: keluarga, kerja, komunitas, dan norma. Memutus komunikasi berarti juga memutus akses pada dukungan sosial, yang justru terbukti penting bagi resiliensi. Yang lebih realistis adalah “puasa kebisingan”: mengurangi komunikasi yang reaktif, dangkal, dan memicu stres, tanpa meniadakan komunikasi yang esensial.

Maka, puasa komunikasi bukan tentang menghilang dari dunia, melainkan mengatur ulang kualitas dan ritmenya, menjadi lebih sadar, lebih selektif, dan lebih manusiawi. Komunikasi bukan hanya melulu tentang interpersonal relationship. Tetapi juga intrapersonal. Bagaimana kita memahami diri sendiri, dan introspeksi. Keheningan mungkin diperlukan untuk melakukan komunikasi intrapersonal ini.

Dalam keheningan yang terukur, kita belajar mendengar diri, agar saat kembali berbicara, kata-kata kita tidak sekadar banyak, tetapi bermakna.


*Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Dr. Soetomo 

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Lansia Di Era Dompet Digital: Kemudahan, Kesulitan Atau Jerat Penipuan?

25 Februari 2026 - 09:43 WIB

Romantisasi Kemiskinan di Balik Slogan ‘Semua Bisa Jadi Entrepreneur’

11 Februari 2026 - 13:12 WIB

Terlambat tapi Tulus: Gen Z Minta Maaf kepada Aurellie Moeremans Usai Membaca “Broken Strings”

22 Januari 2026 - 21:34 WIB

Pajak: Antara Lingkaran Setan dan Macan Kertas

16 Januari 2026 - 14:11 WIB

Warga Desa Karangsuko Malang Kembangkan Ekonomi Lewat Wisata Alam

15 Januari 2026 - 15:46 WIB

Trending di Opini & Analisis