ISTARA – Waktu kecil, saya sering mandi di pantai dan belajar berenang. Setelah itu, pasti ingin makan gorengan agar hangat; apa pun akan dimakan selesai berenang. Tapi ini bukan tentang belajar renang di pantai, melainkan rasa lapar karena rumah sudah terendam banjir satu meter lebih. Saya tidak bisa menyalakan api dan listrik pun padam. Persediaan makan seperti mie dan roti juga hanyut entah ke mana; hujan memang sangat lebat sampai semua ini terjadi.
Di atas rel kereta, saya tidak bisa makan padahal ada sebungkus roti yang baru saja dibeli. Seketika saya teringat orang-orang yang ada di sana: hari ini bisa makan apa? Sudah tidur atau tidak? Bagaimana mereka yang terpisah dengan keluarganya? Ada sang ayah yang terus mencari anaknya di tengah lumpur, dan ada sang anak yang mencari ibunya; ia hanya diam menangis, tidak tahu harus berbuat apa.
Air, kenapa datang di waktu mereka tidak ada persiapan? Air ialah benda yang jujur; ia akan mengalir ke permukaan yang ada di bawahnya. Air akan mengalir menelusuri jalan yang rendah. Air menjadi sumber kehidupan bagi manusia, dan air juga bisa menjadi sumber masalah yang datang dari segala arah karena ulah orang-orang yang bersalah.
Setelah sekian menit membaca berita, banyak orang yang peduli terhadap bencana di sana. Ada yang melelang baju olahraga, melelang lukisan, dan membuat konser kepedulian yang semuanya didonasikan kepada korban.

Foto: Ilustrasi by AI
Kabar terkini, ada 1.000 orang lebih yang tewas. Di antaranya pasti ada penyandang disabilitas yang hidupnya tinggal berdua dengan saudara atau ibunya. Di antaranya pasti ada penderita stroke yang tidak bisa berlari karena air datang terlalu cepat. Di antara mereka, ada yang sedang menunggu anaknya pulang dengan gelar sarjana karena sedang melanjutkan studi di luar negeri, tapi nasib malang membuat keduanya harus terpisah; hanya tinggal tangisan dan rasa haru untuk mengikhlaskan. Di antara mereka pasti ada yang saling mencari; minimal kalau sudah meninggal, jasadnya ditemukan agar bisa diikhlaskan dengan hati lapang, supaya suatu hari nanti ada titik ziarah yang bisa dikunjungi. Kalau seperti ini, hanya tinggal tangisan yang tidak tahu arah harus mencari jenazahnya ke mana.
Rute KRL saya sudah sampai. Melihat jutaan orang yang sedang berjuang menggunakan KRL, tidak ada bandingnya dengan perjuangan mereka di Aceh dan Sumatra. Saya tidak kenal satu pun dari mereka yang ada di sana, tapi hari ini saya niatkan puasa untuk merasakan apa yang mereka rasakan juga.
Setelah kejadian ini, banyak yang menjadi “pahlawan” untuk mendapatkan validasi agar dianggap berjasa. Ada juga yang pura-pura tidak tahu, padahal itu adalah ulah mereka yang selalu mengambil kayu dari hutan. Secara bersamaan, muncullah tobat ekologis dari deretan pemerintah (ah, mungkin ini hanya firasat saya). Daripada mengira yang tidak mungkin, lebih baik saya fokus untuk membenahi diri saya sendiri. STAY HEALTHY, INDONESIA.











